Senin, 26 Juni 2017

Aksi dan rencana teror sepanjang 2016

id Aksi dan rencana teror sepanjang 2016
Aksi dan rencana teror sepanjang 2016
Anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror menggiring satu dari enam terduga kasus teroris saat akan dipindahkan, di Markas Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Polda Jawa Timur, Ampeldento, Malang, Jawa Timur, Minggu (21/2). Enam orang terduga teroris yang disinyalir terlibat bom Thamrin, Jakarta, ditangk
Jakarta (ANTARA GORONTALO) - Terorisme masih merupakan salah satu ancaman besar di negara ini.  Pada tahun 2016, Polri telah berhasil menggagalkan beberapa rencana teror dan menangkap sejumlah pelaku.

Selain aksi teror, para pelaku teror juga turut menyebarkan paham radikal yang telah berhasil mempengaruhi beberapa pelaku teror baru.

Kerja keras Polri termasuk Densus 88 patut diberi penghargaan karena telah berhasil mencegah terjadinya aksi teror dan menekan terjadinya radikalisasi selama tahun 2016.

Bom Thamrin
Awal tahun masyarakat dikejutkan dengan aksi teror di ibu kota pada Kamis (14/1) pagi. Saat itu terjadi enam kali ledakan yang dilanjutkan dengan aksi baku tembak di depan gerai kopi Starbucks dan pos polisi Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta.

Akibat peristiwa tersebut, delapan orang meninggal dunia, yang empat di antaranya adalah pelaku. Dian Joni Kurniadi merupakan pelaku yang meninggal di dekat pos polisi.

Sementara Afif alias Sunakim dan Muhammad Ali merupakan pelaku yang meninggal di depan halaman Starbucks. Sedangkan Ahmad Muhazin adalah pelaku bom bunuh diri yang ditemukan tewas di dalam gerai Starbucks.

Densus 88 bergerak cepat, pada 22 Januari, enam orang diringkus karena diduga mengetahui rencana aksi teror bom Thamrin.

Keenam orang ini ditangkap di beberapa daerah yang berbeda. DS, Cun dan Ju ditangkap di Cirebon (Jawa Barat), AH ditangkap di Indramayu (Jabar) serta AM dan F ditangkap di Tegal (Jawa Tengah).

Polisi menengarai keenam orang tersebut mengetahui rencana aksi pemboman tapi tidak turut serta. Dari penggeledahan di rumah tinggal keenam orang tersebut ditemukan bahan peledak yang komposisinya sama dengan bom Thamrin.

Perburuan kelompok teroris berlanjut pada 11 Februari, tim Densus bersama Polda Jabar menangkap dua teroris berinisial I dan H di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

I merupakan buronan dalam kasus pelatihan militer di Aceh. I juga diketahui bergabung dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Abu Roban.

I dan H diketahui telah menyembunyikan buronan kasus terorisme, Khumaidi alias Hamzah. Khumaidi sendiri diketahui satu kelompok dengan pelaku bom Thamrin yakni mendiang Dian Joni Kurniadi.

Masih terkait dengan bom Thamrin polisi kembali menangkap sejumlah orang yang diduga terkait langsung.

Pada 20 Februari, ditangkap lima teroris di Malang, Jawa Timur yakni Achmad Ridho Wijaya, Rudi Hadianto, Badrodin, Romli dan Handoko.

Pada 1 Maret, ditangkap dua teroris yakni S alias DA dan KW di area makam Eyang Setuhu di Dusun Keramat, Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Sehari sebelumnya Densus juga menangkap dua orang yakni PJ alias RB dan PKK alias LT di Kroya, Cilacap, Jateng.

Diketahui bahwa S alias DA dan KW sempat mengadakan pertemuan dengan salah satu pelaku bom Thamrin di Malang, Jatim, sekitar sebulan sebelum peristiwa bom Thamrin terjadi.

Dalam pertemuan tersebut, sebagian dari lima teroris yang ditangkap di Malang pada 20 Februari juga hadir. Dalam pertemuan itu dibahas rencana melakukan fai terhadap supermarket, WNA dan serangan terhadap polisi.

Penggagalan rencana teror Surabaya

Aksi teror yang kembali direncanakan oleh para teroris terdeteksi oleh Polri sehingga pada 8 Juni, Densus 88 dibantu Polda Jatim menangkap tiga teroris berinisial PHP, JR dan FN.

PHP atau bernama lengkap Priyo Hadi Utomo ditangkap di Kenjeran, Surabaya. Ia merupakan residivis kasus narkoba. Ia dipenjara di LP Porong dan dibebaskan pada April 2014. Selama di Lapas Porong, Priyo sering terlihat bersama Maulana Yusuf Wibisono dan Shibgotuloh.

"Priyo sering terpantau bersama Maulana Yusuf dan Shibgotuloh," kata Kadivhumas Polri Irjen Polisi Boy Rafli Amar.

Shibgotuloh merupakan mantan napi kasus terorisme yang terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Sumut. Sementara Maulana Yusuf Wibisono alias Kholis merupakan mantan anggota Jamaah Islamiyah jaringan Abu Dujana.

Priyo berperan sebagai pemimpin kelompok tersebut.

Selanjutnya ada Befri Rahmawan alias Azis alias Ibnu ditangkap di Jalan Kalianak, Surabaya. Befri diketahui merupakan buronan Polres Malang karena terlibat kasus pengeroyokan dan KDRT. Befri berperan mengatur hari pelaksanaan rencana aksi, menyediakan bahan-bahan peledak dan calon eksekutor.

Sementara Feri Novandi alias Abu Fahri alias Koceng ditangkap di rumahnya yang berada di Dukuh Setro, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Feri berperan sebagai pembuat rangkaian elektronik menggunakan sensor cahaya.

Terakhir yaitu Sali alias Abah, berperan membuat bahan peledak dan ikut mengakomodasi tempat pembuatan bahan peledak.

Keempatnya diketahui hendak merencanakan aksi teror bom dengan target beberapa pos polisi di Surabaya.

"Mereka ingin menyerang negara melalui Kepolisian karena polisi dianggap melakukan kegiatan pemberantasan teror," kata Irjen Boy.

Boy merinci empat lokasi yang menjadi target aksi teror bom kelompok ini adalah Polres Tanjung Perak Surabaya, Pos Polisi Jalan Darmo, Pos Polisi Jalan Basuki Rahmat dan Pos Polisi Taman Bungkul.

Bom Mapolresta Surakarta

Satu hari sebelum perayaan Idul Fitri, tepatnya pada Selasa (5/7), terjadi serangan bom bunuh diri di halaman Mapolresta Surakarta, Jawa Tengah.

Pelaku bernama Nur Rohman tewas dalam peristiwa tersebut. Atas peristiwa tersebut, seorang polisi Brigadir Bambang Adi Cahyono mengalami luka di wajahnya.

Dari catatan Kepolisian, Nur diketahui merupakan buronan kasus teror di Bekasi pada Desember 2015. Polisi berhasil menangkap tujuh orang termasuk Abu Musab alias Arif Hidayatullah di Bekasi, Jabar pada 23 Desember 2015. Namun, Nur Rohman melarikan diri dan akhirnya melakukan peledakan di Mapolresta Surakarta.

Kelompok Bekasi pimpinan Abu Musab dan Nur Rohman ini diduga bagian dari kelompok Jamaah Anshar Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN), sama seperti para pelaku bom Thamrin.

Densus terus bergerak mencari jaringan Nur Rohman hingga akhirnya pada akhir Juli 2016, Tim Densus menangkap tiga tersangka H, Har dan AH. Setelah diperiksa selama tujuh hari, ketiganya terbukti terkait secara langsung dengan pelaku bom bunuh diri di depan Mapolresta Surakarta, Nur Rohman.

Dari hasil pemeriksaan, Har alias Glondor mengakui bahwa dia diperintah H agar mencari kontrakan untuk Nur Rohman.

Har juga mengaku bahwa ia telah menghubungkan Nur Rohman dengan Abu Musab di Bekasi serta membiayai Nur Rohman berangkat ke Bekasi.

Sementara tersangka AH mengatakan bahwa pada Desember 2015, Nur Rohman menemui dirinya dan mengatakan bahwa Nur Rohman sedang diburu polisi sehingga minta disembunyikan dan dicarikan pekerjaan.

Sementara tiga orang lainnya yang ditangkap yakni C, Wi dan Zu hanya dijadikan saksi dan dibebaskan karena tidak mengetahui identitas asli dan sepak terjang Nur Rohman.

"Ketiganya tidak mengetahui nama asli Nur Rohman. Baik C, Wi dan Zu mengenal Nur Rohman dengan nama samaran Bayu. Bayu diperkenalkan kepada ketiganya oleh tersangka AH," kata Kadivhumas.

Saat itu,AH minta tolong kepada C agar mencarikan pekerjaan untuk saudaranya bernama Bayu. Kemudian C menemui Wi agar Wi bisa menerima Bayu bekerja di usaha pembuatan paving block serta di kandang ayam yang dikelola istri Wi, Zu.

Dari keterangan Zu, terkuak bahwa Bayu pernah bekerja di kandang ayam miliknya sejak Maret 2016.

"Zu melihat Bayu terakhir kali pada 4 Juli," katanya.

Rencana aksi teror Batam
Gigih Rahmad Dewa (GRD) bersama empat orang kelompok KGR pada Jumat ditangkap tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Batam.

Pada Jumat (5/8), Densus 88 Antiteror Mabes Polri bersama jajaran Polda Kepri menangkap lima teroris yang tergabung dalam kelompok Kitabah Gonggong Rebus (KGR) di Batam, Kepulauan Riau.

Kelimanya ditangkap di beberapa lokasi yang berlainan. GRD (31), Tar (21) dan ES (35) ditangkap di kawasan Batam Center, TS (46) ditangkap di Nagoya dan HGY (20) ditangkap di Jalan Brigjen Katamso, Batu Aji, Batam.

Kelompok ini diduga pernah merencanakan serangan teror dengan target serangan di Marina Bay, Singapura.

"Mereka (pernah) berencana akan menyerang menggunakan roket dari Batam ke Singapura".

Serangan tersebut rencananya akan dilakukan GRD bekerja sama dengan petempur ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim.

"Kemungkinan rencana tersebut pas sebelum BN (Bahrun Naim) pergi ke Suriah," katanya.

Kelompok tersebut diduga juga mendapatkan pelatihan cara membuat bom dari Bahrun melalui percakapan di jejaring sosial, Facebook.

Kelompok ini diduga memiliki hubungan dengan pelaku bom bunuh diri di Polresta Surakarta, Nur Rohman.

Selain itu, GRD juga diketahui merencanakan sejumlah aksi bom bunuh diri dengan menargetkan tempat keramaian dan kantor polisi.

Aksi teror gereja
Aksi teror juga terjadi di gereja. Pada Minggu, 28 Agustus 2016, pelaku berinisial IAH mencoba membunuh pastor di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan dr Mansyur, Medan, Sumatera Utara.

Awalnya, IAH berpura-pura menjadi jemaat dan masuk mengikuti kebaktian di gereja tersebut. Ketika Pastor Albert S. Pandiangan akan memberikan khotbah, pelaku mengejarnya hingga ke mimbar gereja sambil membawa tas berisi bom rakitan dan sebilah pisau.

IAH berupaya melukai pastor dengan pisau yang dibawanya tapi hanya melukai tangan pastor. Sementara tas yang berisi bom gagal meledak dan hanya mengeluarkan api dan asap.

Setelah ditangkap, IAH mengaku bahwa dirinya disuruh seseorang untuk melakukan aksi teror di gereja tersebut.

Dua bulan kemudian juga terjadi teror di gereja. Kali ini gereja di Samarinda yang menjadi target.

Pada Minggu (13/11), terjadi pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Jalan Cipto Mangunkusumo Nomor 32 RT 03 Kelurahan Sengkotek Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur.

Peristiwa pelemparan bom molotov itu terjadi usai jemaat gereja melaksanakan misa, sekitar pukul10.00 WITA yang diarahkan pelaku ke parkiran kendaraan Gereja Oikumene.

Akibat kejadian tersebut, empat anak balita mengalami luka serius, bahkan seorang korban di antaranya bernama Intan Olivia Marbun yang berumur 2,5 tahun meninggal dunia.

Atas aksi teror ini, polisi menetapkan tujuh tersangka, termasuk pelaku pelemparan bom, Juhanda alias Joh alias Muhammad bin Aceng Kurnia. Enam tersangka lainnya Supriadi, GA (16), RP (17), Ahmadani, Rahmad dan Joko Sugito.

Juhanda diketahui pernah menjalani hukuman penjara selama lebih dari tiga tahun sejak Mei 2011 atas kasus teror bom Puspitek, Serpong, Tangsel, Banten. Kemudian Juhanda dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 juli 2014.

"Kemudian pelaku pindah ke Samarinda dan bekerja sebagai buruh di sana," kata Boy.

Tak hanya terlibat kasus teror bom di Serpong, Juhanda alias Joh juga diduga terkait dengan kasus bom buku di Jakarta pada 2011 yang tergabung dalam kelompok Pepy Fernando.

"Ini jaringan lama. Sekarang dia bergabung dengan JAD (Jamaah Anshar Daulah) Kaltim," ujarnya.

Sementara Joko adalah pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) cabang Samarinda, Kaltim dan pernah menjadi santri di pondok pesantren milik Aman Abdurrahman, pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Mengancam objek vital negara

Pada Rabu (23/11), polisi menangkap seorang terduga teroris di Majalengka, Jawa Barat, Rabu, yang disinyalir merupakan jaringan Bahrun Naim.

"Pada Rabu 23 November 2016 sekitar pukul09.00 WIB telah dilakukan penangkapan pelaku terorisme bernama Rio Priatna Wibawa," kata Kadivhumas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar.

Ia adalah Rio Priatna Wibawa, pria kelahiran Majalengka, 27 Desember 1992 itu diketahui belum menikah dan belum bekerja. Rio ditangkap di rumahnya di Desa Girimulya, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka.

Kadivhumas mengatakan sejumlah barang bukti yang disita di rumah Rio adalah bahan HMTD, anfo, blackpowder, RDX, TNT,asam nitrat, asam sulfat, air raksa, pupuk urea, gelas kimia dan paku gotri.

Bahan peledak yang ditemukan di rumah Rio rencananya akan diledakkan di berbagai lokasi yang merupakan objek vital negara seperti Gedung DPR/MPR, Mabes Polri, Mako Brimob, stasiun televisi berita, tempat ibadah dan beberapa kantor Kedutaan Besar pada akhir 2016.

Rio membuat bahan-bahan peledak tersebut di laboratorium rumahnya atas pesanan dari sejumlah daerah yakni dari Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara.

"Namun, sebelum bahan tersebut jadi bom dan diedarkan, si pembuat (RPW) sudah keburu ditangkap Densus," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Rikwanto.

Para pemesan tersebut merupakan orang-orang dalam jaringan kelompok Bahrun Naim.

Rio yang pernah kuliah di fakultas pertanian di sebuah universitas di Majalengka ini diketahui menyukai mata pelajaran kimia semenjak di bangku SMP.

Kemudian ia pun direkrut oleh kelompok radikal jaringan Bahrun karena mereka tertarik dengan keahliannya dalam membuat senyawa kimia.

"Direkrut sekitar tiga tahun lalu," ungkapnya.

Rio kemudian teradikalisasi setelah membaca sejumlah artikel dan buku-buku milik Aman Abdurrahman, pemimpin Jamaah Ansarut Daulah (JAD) yang kini dipenjara di Lapas Nusakambangan Cilacap.

Meski belum pernah bertemu langsung dengan Bahrun Naim, Bahrun secara langsung memerintahkan Rio membuat bom untuk kebutuhan aksi bom bunuh diri.

Rio kemudian mempelajari cara membuat bom dari internet dan panduan dari Bahrun yang disampaikannya melalui akun jejaring sosial Facebook.

Kemudian pada Sabtu (26/11), Densus 88 menangkap terduga teroris bernama Bahrain Agam di Desa Blang Tarakan, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

Pada Minggu (27/12), tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri kembali membekuk seorang terduga teroris bernama Hendra alias Abu Pase di Jalan Ismaya Raya, Pondok Benda, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Menurut Brigjen Rikwanto, Hendra yang merupakan warga Aceh ini diketahui sebagai pemberi dana operasional dan membuat bahan peledak.

Sementara di tempat yang berbeda, tim Densus menangkap terduga teroris lainnya bernama Saiful Bahri alias Abu Syifa di Desa Baros, Serang, Banten.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui Bahrain berperan merancang bom, ikut membeli bahan-bahan peledak dan memberikan dana Rp7 juta untuk keperluan aksi terorisme.

Sementara Saiful berperan membantu Rio membangun laboratorium di rumah Rio yang digunakan untuk membuat bom serta turut merencanakan aksi pengeboman di beberapa objek vital.

Keempatnya merupakan jaringan sel JAD yang berbaiat kepada ISIS, dalam hal ini dipimpin petempur ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim.

Rencana bom Istana

Pada Sabtu (10/12), Densus 88 menangkap tiga terduga teroris, MNS dan AS (laki-laki) serta DYN (perempuan). MNS dan AS ditangkap di jalan layang Kalimalang, Bekasi.

Sementara DYN ditangkap di rumah kontrakan di Jalan Bintara Jaya 8 Bekasi, Jawa Barat.

Polisi menemukan barang bukti berupa bom rakitan berbentuk penanak nasi elektronik (rice cooker) di kamar 104 kontrakan tiga lantai itu.

Tim Gegana Polda Metro Jaya meledakkan satu bom aktif yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) pada Sabtu (10/12) malam.

Sedangkan terduga teroris selanjutnya, Suyanto alias Abu Izzah ditangkap di daerah Sabrang Kulon Matesih, Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

M. Nur Solikhin alias MNS (26 tahun) berperan sebagai pimpinan jaringan ini. Ia juga merekrut langsung DYN, AS, Suyanto, dan KF serta menerima transfer dana dari Bahrun Naim.

Agus Supriyadi (AS) alias Agus bin Panut Harjo Sudarmo (36) berperan menyewa mobil rental untuk mengantar bom ke Bekasi. Diketahui, AS bersama MNS menerima bom dari Suyanto di Karanganyar dan mengantarkannya ke Bekasi.

Dian Yulia Novi (DYN) alias Ayatul Nissa Binti Asnawi (27), merupakan istri kedua MNS. Ia diproyeksikan sebagai calon "pengantin" aksi bom bunuh diri di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Minggu (11/12) pagi.

Rencananya aksi tersebut menargetkan momen pergantian petugas jaga paspampres di Istana.

Kemudian Suyanto (40) alias Abu Iza alias Abu Daroini Bin Harjo Suwito ditangkap didaerah Sabrang Kulon Matesih, Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah pada Sabtu (10/12) malam.

Suyanto yang bekerja sebagai petani ini menyediakan rumahnya untuk menjadi tempat untuk merakit bom, dirinya juga mengantar bom tersebut dari rumahnya ke pom bensin dekat waduk di Karanganyar untuk diserahkan ke MNS dan AS.

Selanjutnya pada Minggu (11/12), tim Densus 88 kembali menangkap tiga terduga teroris jaringan MNS.

Ketiganya ditangkap di tiga daerah berbeda, yakni terduga teroris berinisial KF (22) ditangkap di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur; APM (25) ditangkap di Solo, Jawa Tengah dan WP (24 tahun) ditangkap di Klaten, Jawa Tengah.

Khafid Fatoni (KF) alias Toni bin Rifai yang merupakan mahasiswa, berperan membuat bahan peledak TATP di rumahnya di Ngawi berdasarkan panduan dari Bahrun Naim yang diberikan melalui internet dan merakit bom bersama MNS di rumah Suyanto.

"KF sering berkomunikasi dengan Bahrun Naim," ujarnya.

Arinda Putri Maharani (APM) alias Arinda Binti Winarso (25) merupakan istri pertama MNS, perannya mengetahui rencana pembuatan bom dan menerima dana untuk membuat bom.

Wawan Prasetyawan (WP) alias Abu Umar Bin Sakiman (24) bekerja sebagai buruh bangunan. WP berperan menyimpan bahan peledak atas perintah MNS.

Aksi teror Solo
"Dari hasil pengembangan penangkapan Wawan Prasetyawan,ditangkap tiga orang terduga teroris lainnya," paparnya.

Polri menangkap tiga orang yakni Imam Syafii (33) yang terindikasi sebagai pelaku teror bom molotov di toko Alfamart, Solo pada 5 November dan teror di Candi Resto, Solo Baru pada 3 Desember 2016.

Selanjutnya Sumarno (44) ditangkap di Klaten. Kemudian terduga teroris yang ditangkap selanjutnya, Sunarto (30) dari Karanganyar, Jawa Tengah diduga terlibat sebagai pelaku teror di Candi Resto, Solo Baru.

Selanjutnya Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri bersama Polres Tasikmalaya menangkap terduga teroris perempuan berinisial TS alias UA.

"TS alias UA ditangkap pada Kamis 15 Desember 2016, sekitar pukul 04.30 WIB di rumah kontrakan Jalan Padasuka, Babakan Jawa RT 03 RW 10 Kelurahan Sukamaju Kaler Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya," tuturnya.

TS yang merupakan ibu rumah tangga ini diduga terlibat memberikan motivasi kepada terduga teroris lainnya, DYN untuk "berjihad".

Selain itu, TS juga memiliki andil mempertemukan DYN dengan MNS.

Di hari yang sama, Densus menangkap teroris Ika Puspitasari (IP), warga Dusun Tegalsari, Desa Brenggong, Kabupaten Purworejo.

Ika ditangkap di musola Dusun Tegalsari, Desa Brenggong, Kecamatan Purworejo saat sedang ikut mempersiapkan kegiatan Maulid Nabi SAW.

Selanjutnya, pada Minggu (18/12), polisi juga menangkap tersangka teroris Tri Setiyoko (TS), warga Kampung Sewu RT 01 RW 07 Kecamatan Jebres Solo.

Tri Setiyoko diduga memiliki hubungan dengan aksi pelemparan bom molotov di Serengan Solo dan Grogol Sukoharjo.

Polisi juga menangkap terduga teroris lainnya, Yasir (Ysr) warga Jalan Progo RT 04 RW 02 Semanggi, Solo.

"Perannya, TS dan Ysr diduga sebagai peracik, pembuat bom yang akan diledakkan di Pulau Bali, dimana IP diproyeksikan sebagai pengantinnya," katanya.

Penangkapan serentak

Pada Rabu (21/12), tim Densus 88 berupaya menangkap empat orang terduga teroris di wilayah Tangerang Selatan, namun tiga orang di antaranya tewas ketika digerebek tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri di kontrakan mereka.

Rikwanto merinci, awalnya tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap terduga teroris bernama Adam di Jalan Raya Serpong. Kemudian tim berupaya mengamankan tiga rekan Adam yang masih berada di kontrakan di Kampung Curug, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan.

Rikwanto mengatakan ada perlawanan dari ketiga terduga teroris yang diketahui bernama Omen, Helmi, dan Irwan saat Densus berupaya mengamankan mereka.

"(Pelaku) sudah diminta untuk menyerah, tapi ada perlawanan dari tiga pelaku dengan melempar bom kepada aparat," ungkapnya.

Setelah pelaku melempar bom, terjadi kontak tembak antara pelaku dan Densus. Namun, akhirnya Densus berhasil melumpuhkan para pelaku.

"Setelah aparat Densus dilempar bom, Densus berusaha menembak pelaku. Akhirnya ketiga pelaku meninggal dunia," ucapnya.

Dari pemeriksaan sementara, diketahui bahwa keempatnya berencana melakukan aksi teror di pos polisi.

"Mereka punya rencana menyerang pos polisi dengan lebih dulu melakukan penusukan pada anggota (polisi) yang tengah bertugas dengan tujuan menarik perhatian masyarakat, setelah masyarakat berkumpul, baru pelaku datang bawa bom untuk diledakkan," tuturnya.

Lebih lanjut, Rikwanto menjelaskan rencana teror bom bunuh diri tersebut akan dilakukan dengan melakukan penyerangan di Pos Polisi perempatan Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan. Sasarannya yakni polisi yang tengah berjaga di lokasi tersebut.

Di hari yang sama berlokasi di Kabupaten Payakumbuh, Sumatera Barat, Densus 88 menangkap terduga teroris atas nama Jhon Tanamal alias Hamzah (H). Ia diduga terkait dengan kelompok teroris jaringan Solo yang dipimpin Abu Zaid.

Hamzah ditangkap di rumahnya di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 69 Rt. 004 Rw. 001 Kelurahan Balai Nan Duo, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatra Barat.

"H ini perannya membeli bahan-bahan yang diperlukan oleh Abu Zaid untuk membuat bahan peledak dan bom. Selain itu H juga menjadi sumber pendanaan pembuatan bahan peledak dan bom oleh kelompok tersebut. H dan Abu Zaid juga melakukan percobaan pembuatan bahan peledak dan bom," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Martinus Sitompul.

Sementara di Deli Serdang, Sumatera Utara, Densus 88 juga menangkap satu terduga teroris atas nama Safei Lubis alias S.

S ditangkap karena terlibat dengan kelompok radikal Katibah Gonggong Rebus (KGR) pimpinan Gigih Rahmat Dewa.

S berperan merekrut anggota KGR dan memfasilitasi keberangkatan orang ke Suriah.

Masih di hari yang sama, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap seorang terduga teroris bernama Abisya alias Ha di rumahnya di Sagulung Bahagia Blok N/3 Rt. 003 Rw. 008 Kelurahan Sungai Lekop, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Abisya (28 tahun) ditangkap diduga terkait dengan terduga teroris Safei Lubis alias S yang telah ditangkap sebelumnya di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Keduanya diduga tergabung dalam kelompok KGR.

Peran Abisya yakni memfasilitasi dua WNA Cina etnis Uighur bernama Ali alias Faris Kusuma alias Nu Mehmet Abdulah Cuma dan Doni Sanjaya alias Muhamad alias Halide Tuerxun yang termasuk dalam jaringan teroris the East Turkestan Islamic Movement masuk ke Indonesia secara ilegal dan menyembunyikan keberadaannya selama di Batam.

Selain itu, Abisya juga ikut serta dalam mengelola Rafiqa Travel milik istri Bahrun Naim, Rafiqa Hanum.

Abisya juga berperan sebagai perekrut orang untuk berangkat ke Suriah.

"Dia juga mengikuti baiat pada ISIS bersama-sama dengan anggota kelompok KGR pada Agustus 2015 di Sungai Ladi, Batam," ujarnya.

Abisya dan tiga terduga teroris yang telah ditangkap pada hari tersebut langsung dibawa ke Jakarta guna pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengakui bahwa dari sejumlah penangkapan terhadap teroris, sebagian besar merupakan anggota JAD.

"JAD ini pimpinan lokalnya Aman Abdurrahman. Lalu di ISIS-nya ada Bahrun Naim, Bahrun Syah. Aman memiliki banyak sel," kata Kapolri.

Sel-sel tersebut ditengarai ada yang bekerja sendiri, ada yang berkelompok.

"Yang agak rawan yang lone wolf (bekerja sendiri). Mereka belajar otodidak dari internet, teradikalisasi sendiri dan beroperasi sendiri," katanya.

Pihaknya pun berjanji tidak akan berhenti memberantas jaringan teroris hingga ke akar-akarnya sehingga Indonesia aman dari teror kelompok teroris.

Masyarakat bisa sedikit lega karena puluhan pelaku teror telah berhasil diamankan oleh Polri sepanjang 2016, namun ancaman terorisme tidak akan begitu mudahnya berakhir. Pemerintah diminta untuk memaksimalkan peran Polri, TNI, dan intelijen untuk mencegah terjadinya aksi-aksi teror selanjutnya.

Pemerintah juga diminta untuk terus melakukan pendidikan kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran dari paham radikal.

Yang terpenting, masyarakat harus tetap waspada dengan lingkungannya, terutama dengan orang asing yang bertingkah mencurigakan.

Pengawasan masyarakat adalah hal terpenting dalam mencegah terorisme karena aparat keamanan tidak akan mampu untuk mengawasi seluruh pelosok negeri ini.

Dengan kewaspadaan dan kerja sama yang baik antara masyarakat, aparat keamanan dan pemerintah maka segala bentuk ancaman teror dapat dicegah untuk terjadi lagi di bumi pertiwi ini.

Editor: Hence Paat

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Top News