Jakarta (ANTARA) - Ekonom Bhima Yudhistira mengatakan integrasi perdagangan antarnegara pada Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN semakin penting direalisasikan untuk memperkuat kerja sama ekonomi di kawasan, meski ia juga menilai sejumlah tantangan masih harus diatasi agar manfaatnya bisa dirasakan merata oleh semua negara anggota.
Bhima, yang juga Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), menyebutkan tantangan pertama adalah perbedaan kapasitas antarnegara anggota.
“Contohnya antara Singapura dengan Indonesia. Dari segi kemudahan berbisnis, kapasitas birokrasi, regulasi, itu juga berbeda. Ini perlu ada penyelarasan atau percepatan peningkatan kapasitas,” ujar Bhima saat dihubungi dari Jakarta, Senin.
Kedua, ia menyebutkan masih adanya praktik proteksi tersembunyi di sejumlah negara ASEAN, terutama dalam sektor keuangan.
“Masalah klasik yang belum selesai adalah kesulitan bank-bank Indonesia membuka cabang di Singapura, sementara bank dari Singapura bisa dengan mudah membuka cabang di Indonesia. Ini menunjukkan regulasi yang tidak berimbang,” katanya.
Ia menekankan perlunya standardisasi kebijakan agar tidak terjadi ketimpangan antarnegara ASEAN dalam implementasi integrasi ekonomi.
Tantangan ketiga adalah persoalan korupsi yang mempengaruhi persepsi investor.
Bhima menjelaskan bahwa investor cenderung memilih negara dengan tingkat korupsi yang rendah untuk membangun fasilitas produksi, sementara negara yang dipersepsikan memiliki korupsi tinggi berisiko kehilangan peluang investasi.
Penegakan hukum dan kepastian regulasi dinilai menjadi prasyarat penting dalam menciptakan iklim investasi yang sehat.
Tantangan keempat adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang belum merata di kawasan.
Menurut Bhima, upaya ASEAN untuk menarik relokasi industri perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas tenaga kerja.
“Untuk kendaraan listrik, misalnya, yang lebih banyak diminati adalah Vietnam, Thailand, dan Malaysia,” ucapnya.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN yang berlangsung di Kuala Lumpur pada 26-28 Oktober telah menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis di bidang ekonomi, termasuk penguatan perdagangan intra-ASEAN, peningkatan investasi regional, penguatan integrasi lintas sektor, serta komitmen bersama menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan gangguan rantai pasok.
Berdasarkan data ASEAN, volume perdagangan ASEAN pada 2024 mencapai 3,85 triliun dolar AS, dengan perdagangan intra-ASEAN menyumbang sekitar 823,1 miliar dolar AS atau 21,4 persen dari total tersebut
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: KTT ke-47 ASEAN, ekonom soroti tantangan integrasi perdagangan kawasan
