Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama menggelar Takjil Pesantren yang dirangkai dengan Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, yang menjadi bagian dari rangkaian program Ramadhan Direktorat Pesantren bertajuk “San Trend Ramadhan”.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Kamarudin Amin menyampaikan santri tidak hanya dituntut untuk tafaqquh fiddin, tetapi juga memahami dan menguasai ilmu ketatanegaraan serta kebangsaan agar mampu mengambil peran strategis di berbagai bidang.  

“Santri masa kini jika bisa tidak hanya memiliki target tafaqquh fiddin tetapi bisa belajar ketatanageraaan juga sehingga bisa sukses di pos pos strategis,” ujar Kamarudin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu. 

Dalam kesempatan yang sama, Pengasuh PP Al-Tsaqafah Said Aqil Siradj mengatakan pesantren memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang sangat besar, salah satunya melalui khazanah kitab kuning yang menjadi fondasi pembelajaran.

Kiai Said menjelaskan konstruksi keilmuan pesantren bertumpu pada tiga pilar utama, yakni bayan ilahi yang bersumber dari wahyu, bayan nabawi yang merujuk pada sunnah, serta bayan aqli yang berkembang melalui ijtihad ulama seperti ijma dan qiyas. 

“Pesantren itu kaya, salah satunya karena tradisi kitab kuningnya. Di dalamnya ada bayan ilahi, ada bayan nabawi, dan juga bayan aqli yang melahirkan ijma serta qiyas sebagai metode istinbath hukum,” kata Said Aqil.

Sementara itu, Direktur Pesantren Basnang Said menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian “San Trend Ramadhan” yang meliputi Takjil Pesantren, Pesantren di Radio, Ramadhan Insight, Ngaji Bandongan Online, dan berbagai agenda lainnya.

Kegiatan Takjil Ramadhan dilaksanakan dengan pendekatan tematik, dan pada pelaksanaan perdananya di PP Al-Tsaqafah Ciganjur mengangkat tema Dari Pesantren untuk Dunia: Proyeksi Santri Masa Depan.

Pada momen tersebut, Basnang menegaskan tema yang diangkat bukan sekadar slogan, melainkan arah strategis pembinaan santri ke depan. Ia menekankan pentingnya menghadirkan figur santri yang kuat dalam tradisi, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki komitmen kebangsaan yang kokoh.

“Santri masa depan yang kita proyeksikan adalah santri yang berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren sebagaimana dicontohkan oleh Kiai Said, menguasai khazanah klasik, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan zaman,” kata Basnang.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenag gelar Takjil Pesantren, bahas proyeksi santri masa depan

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026