Gorontalo (ANTARA) - Wakil Rektor II Universitas Negeri Gorontalo Moh Hidayat Koniyo membuka Festival Tumbilotohe yang digelar di Kampus IV UNG, Bone Bolango.
Kegiatan tersebut menegaskan komitmen kampus dalam melestarikan tradisi keagamaan sekaligus mendorong inovasi berbasis teknologi.
Hidayat di Gorontalo, Selasa menyampaikan permohonan maaf dari rektor yang berhalangan hadir.
"Bapak rektor sedianya ingin hadir langsung, namun karena adanya agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan, beliau menugaskan saya,” katanya.
Ia mengatakan Festival Tumbilotohe memiliki nilai penting sebagai bentuk penguatan spiritual di penghujung Ramadhan.
“Perayaan ini merupakan bentuk ungkapan syukur sekaligus penguat keimanan di akhir Ramadhan,” katanya.
Ia menjelaskan tradisi Tumbilotohe memiliki akar historis yang panjang, diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-15.
Tradisi tersebut awalnya hadir sebagai sarana penerangan bagi masyarakat menuju masjid pada malam hari di akhir Ramadhan.
Ia juga memaparkan bahwa Tumbilotohe sarat makna filosofis yang tercermin dalam berbagai simbol budaya, seperti janur kuning, tebu yang melambangkan keramahan, pisang sebagai simbol kesejahteraan, serta semangat Mohuyula atau gotong royong.
Dalam perkembangannya, tradisi tersebut telah bertransformasi menjadi festival yang memadukan unsur budaya dan teknologi.
"Hari ini makna tersebut tidak hilang, namun telah bersentuhan dengan teknologi sehingga menjadi sebuah festival,” katanya.
Festival Tumbilotohe di Fakultas Teknik UNG sendiri telah berlangsung selama sekitar dua dekade dan terus mengalami perkembangan.
Dengan luas Kampus IV yang mencapai sekitar 31 hektare, kegiatan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas.
“Jika lahan kosong sekitar 29 hektare ini kita penuhi dengan cahaya lampu, tentu akan sangat luar biasa,” katanya.
Hidayat mengapresiasi seluruh panitia serta mendukung penuh terhadap kegiatan tersebut, sekaligus mengajak seluruh yang hadir, memulai penyalaan lampu.
"Saya sudah mendisposisikan proposal kegiatan ini karena saya sangat mendukung penuh inisiatif ini. Mari segera kita mulai penyalaan lampu ini karena suasana sudah mulai gelap. Sesuai tradisi, kita mulai di malam ke 27 Ramadhan (malam kedua Tumbilotohe), namun semangatnya harus tetap luar biasa,” katanya.
Pewarta: Susanti SakoEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.