Semarang (ANTARA) - Film berjudul "Aku Harus Mati" hadir bukan sekadar sebagai tontonan horor, melainkan juga ingin menyampaikan pesan moral yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat kekinian.

Iwet Ramadhan, selaku perwakilan produser film "Aku Harus Mati", di Semarang, mengakui bahwa saat ini film bergenre horor masih menjadi film yang banyak diminati masyarakat, apalagi anak-anak muda.

"Kalau memang kita mau menyampaikan pesan moral yang kuat maka kita harus masuk ke tontonan yang paling banyak ditonton oleh masyarakat, dan itu adalah film horor," kata Iwet.

 

Film yang disutradarai oleh Hestu Saputra itu mengisahkan Mala (Hana Saraswati), seorang wanita yang terlilit utang dan teror roh jahat akibat gaya hidup hedon demi validasi kehidupan di ibu kota.

Menurut dia, film tersebut memang diambil dari kondisi sosial masyarakat di era media sosial yang lekat dengan gaya hidup hedonis, flexing, dan seolah membutuhkan pengakuan atau validasi sosial yang kuat.

Tekanan sosial yang kuat untuk mendapatkan pengakuan itu tak jarang membuat orang berpikir singkat hingga menyebabkan terjerat pinjaman online (pinjol) hingga harus menghalalkan segala cara di luar logika.

"Yang mau kami sampaikan, kami ingin masyarakat untuk lebih berhati-hati. Jangan sampai karena kita butuh validasi dari orang lain, kita butuh terlihat keren di mata orang lain, kemudian kita jadi terjerat hal-hal yang tidak perlu," katanya.

Ia mengatakan bahwa kedekatan dengan cerita kehidupan masyarakat itulah yang ingin ditawarkan film tersebut, sekaligus membedakannya dengan film-film serupa lainnya.

"Tokoh Mala di dalam film ini kan terjerat utang pinjol, dan itu kan satu hal yang cukup banyak dialami oleh masyarakat di Indonesia saat ini. Nah, itu juga pesan yang mau kami bawa lewat film ini," katanya.

Mengambil lokasi syuting di Yogyakarta selama 18 hari, film tersebut menawarkan tayangan horor dengan dominasi jumpscare, atau adegan yang dirancang untuk mengagetkan penonton secara tiba-tiba.

Sementara itu, Prasetya Agni sebagai salah satu pemain film tersebut mengaku sangat tertantang memerankan karakter Nugra sebagai orang Jawa yang kuat dan taat dalam beragama.

 

 

Dalam film layar lebar perdananya tersebut, tantangan sulit yang dihadapinya adalah saat adegan membaca Ayat Kursi, mengingat dirinya adalah pemeluk Nasrani.

"Yang paling sulit sih sebenarnya tetap pas (melafalkan) Ayat Kursi kali ya. Supaya melafalkannya dengan benar, perasaannya, feeling-nya waktu ngucapin juga benar, pemahamannya," katanya.

Bahkan, aktor yang akrab disapa Pras itu membutuhkan waktu selama sekitar 10 hari untuk secara intensif belajar melafalkan Ayat Kursi, salah satu ayat dalam Al Quran.

"Challlenge-nya, karena horor kan butuh (kekuatan) fisik ya, apalagi syutingnya agak rapat waktu itu. Terus, challlenge-nya juga yang agak susah dialek (Jawa). Jadi, logat tuh susah nempelnya," katanya.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Film "Aku Harus Mati" sampaikan pesan moral kekinian

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026