Istanbul (ANTARA) - Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan upaya terus dilakukan untuk menyelesaikan beberapa isu yang belum terselesaikan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menyusul negosiasi antara delegasi kedua negara yang berseteru itu di Islamabad.

“Perundingan Islamabad merupakan momen bersejarah tersendiri,” kata Sharif dalam rapat kabinet di Islamabad, Senin (13/4).

Setelah upaya diplomatik bersama Turki, Arab Saudi, dan Mesir, Pakistan pada Rabu (8/4) berhasil mengamankan gencatan senjata selama 14 hari antara Washington dan Teheran - setelah pertempuran selama berminggu-minggu yang dipicu oleh penyerbuan bersama AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Wakil Presiden AS J.D. Vance dan delegasinya bertemu tim Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin negosiasi maraton selama 16 jam sepanjang akhir pekan lalu di ibu kota Pakistan.

Namun, Perundingan Islamabad - yang dianggap sebagai pertemuan paling bersejarah sejak AS dan Iran memutuskan hubungan diplomatik pada 1979 - gagal menghasilkan kesepakatan untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.

Sebelum bertolak kembali ke AS, Vance mengatakan kepada wartawan di Islamabad bahwa Washington menuntut komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Sayangnya, kami tidak dapat mencapai kemajuan apa pun,” ujarnya.

Di lain pihak, Qalibaf mengatakan sekarang terserah Washington untuk memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan Teheran.

Secara terpisah, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan “tidak ada suasana negatif yang dirasakan” setelah perundingan tersebut.

“Saya tidak ingin berspekulasi, tetapi ada peluang,” katanya kepada wartawan ketika ditanya tentang prospek pembicaraan lebih lanjut antara AS dan Iran.

“Lebih banyak inisiatif sedang dilakukan mengenai kemungkinan pembicaraan di masa depan,” ujarnya, menambahkan.

Menurut laporan media AS, tim negosiasi yang dipimpin oleh Vance menetapkan beberapa "garis merah" yang tidak dapat dinegosiasikan untuk Iran, termasuk mengakhiri semua pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama, mengambil kembali uranium yang telah diperkaya, mengakhiri pendanaan proksi, dan membuka kembali Selat Hormuz.

Diskusi tersebut juga mencakup kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Iran serta pembebasan aset-aset Teheran yang ditahan oleh AS.

Sumber: Anadolu

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakistan terus berupaya cari solusi untuk konflik AS-Iran

Pewarta: Yashinta Difa
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026