Gorontalo (ANTARA) - Gorontalo semakin memperkuat strategi pewarnaan untuk menghasilkan produk kain karawo agar bisa menembus pasar global.

Hal itu mengemuka pada Seminar Nasional Tren Warna Wastra Daerah Menuju Pasar Global dengan Prinsip Keberlanjutan yang digelar di Kota Gorontalo, Jumat.

Wakil Ketua APPMI Pusat Misan Kopaka memaparkan tentang pentingnya strategi warna dan keberlanjutan dalam mendorong Karawo menembus pasar internasional.

Misan mengatakan tren warna tidak bisa ditentukan secara sembarangan, melainkan harus berbasis riset pasar yang jelas. 

Setiap daerah memiliki preferensi warna yang berbeda, dipengaruhi budaya, psikis, hingga kebiasaan masyarakatnya.

“Kalau kita ingin produk kita diterima pasar, harus tahu dulu mau dijual ke mana. Tren warna harus mengikuti target pasar, bukan keinginan pribadi,” katanya.

Ia mengatakan warna merupakan kesan pertama yang menentukan ketertarikan konsumen terhadap suatu produk.

Pemilihan warna harus dirancang secara strategis, termasuk menentukan konsep seperti earth tone untuk kebutuhan harian, hingga warna kuat seperti hitam dan merah untuk busana formal.

Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo Nani Ismail Mokodongan mengatakan  pengembangan karawo tetap perlu memperhatikan identitas budaya lokal, khususnya warna adat yang tidak dapat diubah.

“Kita punya warna adat yang menjadi warisan leluhur dan tidak bisa diubah. Tetapi untuk pasar global, kita tetap harus menyesuaikan tren tanpa meninggalkan identitas,” kata Nani.

Ia juga menyoroti pentingnya ketepatan dalam memadukan warna dan motif sesuai segmentasi pasar.

Selera konsumen nasional dan internasional memiliki perbedaan yang cukup signifikan, sehingga perajin perlu lebih jeli dalam membaca peluang.

Sementara itu Founder TIAR Handycraft Dr Isnawati Mohamad mengatakan bahwa keberhasilan produk wastra tidak hanya ditentukan oleh estetika, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan pasar global serta prinsip keberlanjutan.

“Kita boleh beradaptasi, tetapi tidak boleh kehilangan akar budaya. Di sisi lain, isu ramah lingkungan juga menjadi perhatian global, sehingga eco fashion harus mulai diterapkan,” katanya.

Ia berbagi pengalaman produk ramah lingkungan seperti eco print yang memiliki daya tarik tinggi di pasar internasional, meskipun masih menghadapi tantangan dalam kapasitas produksi karena prosesnya masih manual.

Diskusi dalam seminar ini turut menegaskan pentingnya kolaborasi antara desainer dan perajin.

Menurut Misan sinergi keduanya menjadi kunci dalam menciptakan produk yang tidak hanya estetis, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi di pasar.

“Produk sebagus apapun, kalau tidak sesuai pasar, tidak akan terjual. Jadi yang paling penting adalah memahami pasar dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan tersebut,” katanya.

Melalui seminar ini, para peserta termasuk perajin dan pelaku UMKM mendapatkan gambaran konkret bahwa penguatan riset, inovasi warna, serta penerapan prinsip keberlanjutan menjadi langkah strategis untuk membawa karawo Gorontalo naik kelas ke panggung global.

Dengan kombinasi antara kearifan lokal dan pendekatan modern, kain karawo tidak hanya diposisikan sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk kreatif yang adaptif dan kompetitif di pasar internasional.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Wakil Ketua APPMI Pusat Misan Kopaka, Founder TIAR Handycraft Dr Isnawati Mohamad, serta Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo Nani Ismail Mokodongan.


 



Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026