Jakarta (ANTARA) - Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan untuk mendukung deteksi dini masalah hati di tingkat puskesmas melalui pelatihan dokter umum, agar masalah-masalah seperti pembesaran hati, fatty liver, dan lain-lain lebih awal ditemukan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa secara global, lebih dari 300 juta orang terkena penyakit hati kronis, dan dalam setahun ada sekitar 2 juta orang yang meninggal karena penyakit itu.
"Di Indonesia datanya ada, cuma datanya kalau lihat sumber-sumbernya beda-beda juga dan nyatet-nya juga biasalah, Indonesia kita masih harus lebih rapi mencatat datanya. Tapi data yang saya pegang ada sekitar 70 jutaan yang terkena penyakit hati kronis ini," kata Budi.
Dia menjelaskan bahwa penyakit hati dapat berkembang menjadi fibrosis, sirosis, kemudian karsinoma, yang berujung kanker hati. Progres tersebut dapat disebabkan virus, baik hepatitis B maupun C, alkohol, serta obesitas maupun konsumsi gula berlebih.
Oleh karena itu, katanya, pada 2026, pihaknya mengeluarkan kebijakan Nutri-level atau pelabelan gizi, sebagai upaya mengurangi penyakit-penyakit akibat konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih.
Sebelumnya, pihaknya melakukan imunisasi Hepatitis B bagi nakes pada 2023, kemudian memberikan profilaksis Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF) bagi ibu hamil untuk mencegah Hepatitis B dan HIV, serta memasukkan indikator Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mengetahui tanda-tanda fibrosis dan infeksi.
"Promotif preventif jauh lebih penting daripada kuratif, karena itu lebih murah dan kualitas hidup lebih baik buat masyarakatnya. Jadi yang kita kejar, ada nggak promotif preventifnya yang bisa dilakukan dulu," ujarnya.
Terkait deteksi dini, katanya, Kemenkes sudah membagikan USG ke puskesmas-puskesmas, dan hal tersebut bisa dimanfaatkan untuk deteksi dini penyakit hati. Di era sekarang, katanya, hal seperti itu juga bisa dideteksi dengan kecerdasan buatan (AI), sehingga dokter-dokter umum bisa melakukannya juga.
"Saya rasa itu adalah advancement teknologi yang harus berani kita lakukan, dan pemerintah akan keluarkan kebijakan untuk mendukungnya. Sehingga nanti bisa dilakukan di puskesmas, dan treatment-nya bisa lebih cepat," katanya.
Dengan demikian, kata dia, nanti yang ditangani di rumah sakit hanya penyakit hati yang kompleks saja.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemerintah akan buat kebijakan dukung deteksi dini hati di puskesmas
Pewarta: Mecca Yumna Ning PrisieEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.