Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengingatkan pemanggilan individu dengan julukan fisik dapat dikategorikan sebagai bentuk perundungan (bullying), sehingga mendorong sekolah untuk terus mengupayakan budaya belajar yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif.

Ia mencontohkan sejumlah candaan fisik sering dianggap biasa di lingkungan sekolah, padahal candaan tersebut berpotensi melukai perasaan peserta didik.

 

“Ya, kadang-kadang sebagian dari melucu itu justru melakukan harassment. Misalnya, Eh si kuntet! Itu kan maunya melucu, tetapi itu harassment, itu bullyingsebenarnya,” kata Mendikdasmen Mu'ti dalam kegiatan bertajuk "Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman" di Jakarta Pusat, Selasa.

Pada kesempatan itu, ia mengingatkan sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik.

Di sekolah, kata Mu'ti, sudah seharusnya tidak boleh ada diskriminasi yang memandang rendah peserta didik, baik dari aspek tampilan fisik maupun capaian akademik mereka.

Ia mengatakan setiap warga sekolah harus memiliki kesadaran penuh bahwa setiap murid memiliki bakat, kemampuan, dan potensi yang berbeda-beda.

Karena itu, pihaknya mendorong setiap sekolah agar membangun budaya yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif.

Budaya itu, lanjutnya, sejalan dengan prinsip dasar pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), yakni proses belajar yang memuliakan ilmu pengetahuan dan setiap warga sekolah, baik itu murid, guru maupun tenaga kependidikan.

 

 

Melalui pendekatan tersebut, ia berharap para murid dapat belajar dalam suasana yang menggembirakan tanpa harus merendahkan teman sebaya.

"Kami ingin semua anak itu belajar bergembira. Sekolah menjadi tempat dimana semua orang merayakan keberagaman. Inilah nilai dasar kenapa kemudian kami tekankan aspek yang lebih humanis, yang inklusif menerima semuanya, dan partisipatif,” kata Mu'ti.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mendikdasmen ingatkan panggil teman dengan julukan bisa jadi bullying

Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026