Gorontalo (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat daerah tersebut mengalami deflasi sebesar 0,96 persen pada Mei 2026 secara bulanan (month to month/mtm).

Kepala BPS Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo di Gorontalo, Selasa mengatakan angka tersebut menempatkan Provinsi Gorontalo sebagai wilayah dengan deflasi terbesar secara nasional untuk bulan Mei 2026.

"Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan harga pada sebagian besar barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat, dibandingkan dengan bulan April 2026," kata Agus.

Meskipun ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, jumlah dan nilai komoditas yang mengalami penurunan jauh lebih banyak dan lebih besar.

Agus mengatakan meskipun mengalami deflasi bulanan yang cukup dalam, inflasi tahun kalender (Januari-Mei 2026) Provinsi Gorontalo tercatat masih berada dalam rentang kendali pemerintah, yaitu sebesar 1,13 persen.

Angka tersebut dinilai aman karena masih masuk dalam target nasional yang ditetapkan pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, atau di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.

Selain itu BPS juga merinci komoditas utama yang menjadi pemicu inflasi atau penahan deflasi pada Mei 2026 adalah tomat, dengan andil terbesar mencapai 0,09 persen.

Komoditas lain yang ikut mengalami kenaikan harga antara lain beras serta nasi dengan lauk, namun kenaikan pada 10 komoditas utama tersebut tidak mampu mengimbangi penurunan harga yang signifikan pada 10 komoditas lainnya.

Ia mengatakan bahwa komoditas yang mengalami penurunan harga (deflesioner) pada bulan Mei antara lain cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan selar, ikan mujair, hingga air minum kemasan.

"Penurunan harga komoditas pangan dan kebutuhan pokok inilah yang pada akhirnya mendorong Provinsi Gorontalo mengalami inflasi negatif atau deflasi sebesar 0,96 persen pada bulan Mei 2026," imbuhnya.



Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026