Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyoroti kritik sosial yang terkandung dalam film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar dalam rangkaian Bulan Bung Karno 2026.

Saat ditemui usai acara nonton bareng film tersebut di Jakarta, Minggu, Hasto mengatakan film yang sudah dibeli oleh 148 negara itu menggambarkan semangat perjuangan Bapak Proklamator Soekarno dalam melawan kapitalisme dan imperialisme.

"Di dalam film itu sama mengungkapkan bagaimana Bung Karno melakukan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme yang selalu menampilkan wajah baru, di mana pada dasarnya itu adalah suatu nafsu," kata Hasto.

Menurut dia, Joko Anwar mampu menyampaikan dengan cerdas kritik terhadap tata kelola negara yang dilandasi keserakahan lewat tokoh Prakasa Kitabuming (diperankan Arswendy Bening Swara).

"Ada pengusaha yang sangat tamak sehingga ketika dia ditangkap dipenjara pun karena kasus korupsi, pengusaha yang namanya Prakasa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa," ujarnya.

Hasto juga menyoroti makna simbolik di balik karakter Prakasa. "Dia (Prakasa) berasal dari Solo. Nomor registrasinya 2106 1961. Ini sangat simbolik maka ini film yang mencerdaskan," katanya.

 

Ia mengatakan film bergenre horor komedi ini mencerminkan peningkatan kualitas sinema tanah air. Selain menghadirkan ketegangan dan tawa, Ghost in the Cell juga berhasil menyampaikan kritik yang dapat menjadi pengingat bagi banyak pihak.

"Meskipun nampak ada kengerian, tetapi itulah kalau negara tidak dikelola dengan baik. Apa yang disampaikan di dalam film dengan berbagai kritik sosial, politik, dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu bisa terjadi," kata Hasto.

Ia berharap film ini dapat menggugah masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk membangun peradaban yang lebih baik dengan semangat gotong royong.

 

Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo mengatakan film yang tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026 pada Februari lalu itu mengandung satire atas berbagai kondisi sosial.

"Sindirannya lumayan nyelekit, meskipun horornya juga, wow, ngeri. Pesan-pesannya menjadi sampai bahwa kondisi republik seperti ini," ucap Ganjar ditemui usai acara.

Menurut Ganjar, Bulan Bung Karno menjadi momentum untuk mendengarkan keresahan publik yang disampaikan melalui medium seni.

Nobar film Ghost in the Cell digelar oleh Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan untuk mengapresiasi karya anak bangsa sekaligus menjaga api semangat pemikiran Bung Karno.

Ketua BKN PDI Perjuangan Once Mekel menjelaskan bahwa film ini dipilih karena mengandung ruang ekspresi kritis serta didukung sinematografi dan skenario ciamik.

"Ruang ekspresi ini penting buat kita," kata Once dalam konferensi pers.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bulan Bung Karno, Hasto soroti kritik sosial dalam "Ghost in the Cell"

Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026