Jakarta (ANTARA) - CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan dunia usaha bergerak dalam lanskap yang semakin kompleks dan cepat sekali berubah seiring memasuki semester II tahun 2026.

“Bagi pelaku usaha, tantangannya ini tidak lagi datang dari satu arah. Ketidakpastian geopolitik tentunya, perubahan harga energi, kemudian tekanan pada rantai pasok, juga percepatan integrasi teknologi dan AI (Artificial Intelligence), hingga perilaku konsumen yang semakin selektif, semuanya ini mempengaruhi cara perusahaan mengambil keputusan,” ujarnya dalam agenda Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa.

Di tingkat regional, lanjutnya, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan kawasan di Asia Timur dan Pasifik melambat menjadi 4,2 persen dari tahun sebelumnya yang 5 persen. Ini menunjukkan dunia usaha menghadapi dinamika ekonomi yang sangat luas, dan berdampak sangat nyata terhadap para pemimpin bisnis.

Jika dilihat dari laporan PwC Global CEO Survey 2026, tercatat hanya 21 persen CEO di Asia Pasifik yang merasa yakin terhadap prospek pertumbuhan 12 bulan ke depan, turun dari 34 persen di tahun lalu.

Dalam situasi seperti ini, pemimpin perusahaan dinilai perlu berpikir lebih tajam dan lebih disiplin tentang bagaimana cara bertumbuh. “Apapun yang terjadi, kita tetap harus bertumbuh,” kata Neneng.

Pihaknya sendiri meyakini bahwa peluang pertumbuhan masih sangat terbuka, tetapi ruang untuk tumbuh dengan cara yang lama semakin sempit. Karena itu, peluang tersebut perlu dikejar dengan cara yang lebih disiplin dengan memilih prioritas dengan lebih tajam, mengeksekusi lebih cepat, dan memastikan bahwa setiap inisiatif benar-benar berdampak.

Bagi Grab, kata dia, scale smarter (strategi bisnis untuk mengembangkan atau memperbesar skala perusahaan dengan lebih cerdas dan efisien) berarti bertumbuh dengan pilihan yang lebih jelas, memilih area yang benar-benar menciptakan nilai, lalu mengalokasikan sumber daya dengan lebih presisi, dan memastikan pertumbuhan tak menambah kompleksitas yang justru akan memperlambat bisnis.

Selain itu, pihaknya juga menerapkan execute faster yang berarti menerjemahkan strategi menjadi eksekusi sehari-hari melalui integrasi teknologi (termasuk AI dan automation) untuk mendukung produktivitas, visibilitas, kontrol yang lebih baik, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat berdasarkan data.

“Teknologi itu bukan hanya hadir sebagai inovasi di atas kertas, tetapi juga harus membantu tim untuk bekerja lebih produktif, membantu perusahaan mengelola biaya dengan lebih jelas dan lebih efisien, serta membantu konsumen merasakan layanan yang lebih konsisten. Konsumen sekarang itu ekspektasinya sangat tinggi,” ujar dia.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: CEO Grab Indonesia: Dunia usaha bergerak dalam lanskap kian kompleks

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026