Gorontalo (ANTARA) - Sanggar Pajongge di Provinsi Gorontalo mengemas kembali sejumlah tarian tradisional daerah dalam satu pertunjukan sebagai upaya memperkenalkan warisan budaya lokal kepada generasi muda di tengah arus modernisasi.

Pelatih tarian dari Sanggar Pajongge Riski Harmain di Gorontalo mengatakan karya tari berjudul "Moragai" memadukan empat tarian tradisional Gorontalo, yang menggambarkan kehidupan dan aktivitas masyarakat setempat.

"Tarian ini merepresentasikan empat tarian sekaligus yang diambil dari aktivitas masyarakat Gorontalo," kata Riski.

Ia menjelaskan tarian tersebut menggabungkan unsur Hulondalo Lipuu, Linde, Bintea, dan Lilimu yang masing-masing menggambarkan kehidupan masyarakat nelayan, pengolahan hasil kelapa, aktivitas di kawasan Danau Limboto, serta identitas budaya Gorontalo.

Menurut dia, pengemasan ulang tarian tradisional dilakukan untuk memudahkan generasi muda mengenal nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kesenian daerah.

Ia mengatakan sejumlah gerakan dan musik diaransemen kembali tanpa menghilangkan unsur budaya yang menjadi ciri khas masing-masing tarian.

"Gerakan dan musiknya kami aransemen kembali agar lebih mudah diterima oleh generasi muda, tetapi tetap mempertahankan pesan budaya yang ingin disampaikan," katanya.

Riski menilai pelestarian budaya memerlukan keterlibatan generasi muda agar kesenian tradisional tidak kehilangan ruang, di tengah berkembangnya berbagai bentuk hiburan modern.

Menurut dia, seni pertunjukan dapat menjadi media untuk mengenalkan sejarah, tradisi, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan dan sumber daya alam yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Melalui pertunjukan tersebut, Sanggar Pajongge berupaya menghadirkan budaya lokal dalam kemasan yang lebih dekat dengan generasi muda sehingga nilai-nilai budaya dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Siswi MAN 1 Kota Gorontalo sebagai penari muda dibawa binaan Sanggar Pajongge, Selasa, (9/6/2026). (ANTARA/FARADILA ALIM)


Pewarta: Faradila Alim
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026