Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman berpendapat pemerintah perlu menyiapkan stimulus yang bersifat fundamental untuk meredam tekanan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
“Kombinasi antara stimulus jangka pendek dan penciptaan lapangan kerja akan menjadi kunci menjaga daya beli sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan kenaikan harga BBM nonsubsidi,” ujar Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Pada sisi yang lebih fundamental, pemerintah perlu mempercepat realisasi belanja negara dan daerah yang memiliki efek berganda (multiplier effect) tinggi, mendorong investasi, serta mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan industri padat karya.
Dengan lebih dari 97 persen tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor UMKM, kata Rizal, menjaga likuiditas dan aktivitas sektor ini akan lebih efektif dalam mempertahankan pendapatan masyarakat dibandingkan sekadar memberikan bantuan konsumtif.
Meski begitu, Rizal menyebut stimulus jangka pendek juga perlu digelontorkan dengan prinsip yang lebih terarah.
Pasalnya, kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi menekan daya beli, terutama kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik.
“Inflasi Indonesia pada Mei 2026 telah berada di kisaran 3,08 persen (yoy) dan BI-Rate sudah naik menjadi 5,50 persen, sehingga ruang konsumsi masyarakat semakin tertekan akibat kenaikan biaya hidup dan biaya kredit,” jelas dia.
Rizal mencontohkan bentuk stimulus yang perlu digulirkan berupa penguatan bantuan sosial (bansos) kepada kelompok rentan dan perpanjangan insentif bagi sektor padat karya.
Pemerintah juga perlu memastikan stabilitas harga pangan tetap terjaga sekaligus memberikan subsidi ongkos distribusi komoditas strategis.
“Langkah ini lebih efektif dibandingkan memperluas subsidi energi, mengingat sekitar 20 persen kelompok rumah tangga berpendapatan tertinggi masih menikmati porsi subsidi energi yang relatif besar, sehingga subsidi yang tidak tepat sasaran justru mengurangi efisiensi fiskal,” ujar Rizal.
Sebagai catatan, mulai 10 Juni 2026, harga bahan bakar non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Sementara BBM bersubsidi jenis Pertalite tetap dipasarkan dengan harga Rp10 ribu per liter dan Biosolar harganya masih Rp6.800 per liter.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemerintah perlu siapkan stimulus fundamental guna redam tekanan BBM
Pewarta: Imamatul SilfiaEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.