Gorontalo (ANTARA) - Petani Kalimantan Tengah (Kalteng) Banu Subianto yang merupakan peserta Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII mengatakan ingin meniru teknologi panen padi di Gorontalo.
Banu yang berasal dari Kabupaten Kotawaringin Barat itu mengaku terkesan dengan perkembangan sektor pertanian dan pangan di Gorontalo, khususnya untuk komoditas padi yang menjadi salah satu andalan daerah tersebut.
"Kalau dari pertanian, kami bangga karena di sini pusat pangan, terutama padi. Mudah-mudahan ke depan Gorontalo terus swasembada pangan dan tidak tergantung dengan provinsi lain," kata Banu saat ditemui di sela-sela pelaksanaan PENAS XVII di Kabupaten Gorontalo, Sabtu.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kemajuan pertanian di Gorontalo terlihat dari pemanfaatan teknologi mekanisasi yang telah diterapkan petani, mulai dari penggunaan traktor hingga alat panen modern atau combine harvester.
Ia menilai teknologi pascapanen yang digunakan petani Gorontalo dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang masih berupaya meningkatkan produktivitas sektor pangan.
"Yang jelas kami melihat teknologi panennya sudah menggunakan combine dan traktor. Artinya sektor pertaniannya sudah siap dan berkembang," ujar dia.
Banu mengatakan pengalaman selama mengikuti PENAS XVII memberikan banyak pelajaran yang dapat diterapkan di daerah asalnya, terutama dalam pengembangan lahan sawah dan peningkatan produksi padi.
Saat ini, menurut dia, produksi padi di Kabupaten Kotawaringin Barat masih terbatas sehingga kebutuhan beras masih bergantung pada pasokan dari daerah lain.
"Di Kalimantan Tengah, khususnya kabupaten kami, lahan sawah masih sedikit. Mudah-mudahan ke depan kami bisa meniru Gorontalo agar lahan padi dan sawah semakin luas," katanya.
Selain sektor pertanian, Banu juga mengapresiasi keramahan masyarakat Gorontalo yang menerima peserta dari berbagai daerah tanpa memandang latar belakang suku dan budaya.
"Alhamdulillah masyarakat Gorontalo ramah, damai, dan saling menghargai. Kami bangga bisa berada di Gorontalo dalam acara PENAS ini," katanya.
Sebanyak sekitar 13 ribu perwakilan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia mendaftar untuk mengikuti PENAS XVII, dan menjadikannya sebagai wadah untuk bersilaturahmi, bertukar pengalaman, memperluas jejaring, serta mempelajari berbagai inovasi dan teknologi yang dapat mendukung pengembangan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat membuka PENAS XVII mengatakan Indonesia harus memastikan kemandirian pangan dan tidak boleh bergantung pada negara lain.
Ia menyoroti pentingnya peran petani dan nelayan agar Indonesia mencapai kondisi kemandirian pangan di tengah kondisi dinamika global saat ini.
"Kemandirian pangan seperti yang kita ketahui adalah salah satu program prioritas Bapak Presiden, apalagi di tengah konflik geopolitik, perang dagang, perang tarif. Negara tidak boleh terlalu bergantung dengan negara lain," ujar Gibran.
Pewarta: Faradila AlimEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.