Nanning (ANTARA) - Dua karya video asal Indonesia meraih penghargaan dalam Kontes Video Pendek Persahabatan dan Kerja Sama ASEAN-China ke-5 di Nanning, China. "Kota Kebahagiaan" memenangkan Excellence Awards, sedangkan "Boundless Love" meraih Special Awards Micro Drama.

"Kota Kebahagiaan" merupakan karya Rian Fahardhi Risyad, sementara "Boundless Love" diproduksi rumah produksi Nanyang Breeds Media. Penghargaan diumumkan dalam acara yang digelar di Daerah Otonom Guangxi Zhuang, Kamis.

Wakil Duta Besar RI untuk China Irene mengatakan Indonesia menempatkan pertukaran antarmasyarakat sebagai fondasi penting kerja sama ASEAN-China. Menurutnya, kolaborasi antarkomunitas dan pelaku budaya akan memperkuat kemitraan kedua pihak.

Kontes bertema "Bergandengan Tangan, Dari Hati ke Hati, Bersama untuk Modernisasi" itu dibuka sejak Desember 2025 dan menerima 8.774 karya dari negara-negara ASEAN serta China.

Rian mengatakan ide "Kota Kebahagiaan" lahir setelah mengunjungi hutong di Beijing. Kawasan permukiman itu menginspirasinya membayangkan sebuah kota dengan warga yang saling mengenal, membantu, dan menjaga satu sama lain.

Melalui videonya, Rian menggambarkan kota yang mendukung pendatang memperoleh pekerjaan sekaligus menyediakan ruang publik yang memadai. Menurutnya, pembangunan kota seharusnya berorientasi pada peningkatan kebahagiaan warganya.

Rian, yang juga meraih penghargaan pada kompetisi yang sama tahun lalu dalam kategori berbeda, mengatakan proses kreatifnya berangkat dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Menurut Rian, kecemasan bukanlah musuh, melainkan sinyal agar seseorang memberi perhatian pada persoalan tertentu. Gagasan itu menjadi landasan utama dalam penyusunan konsep videonya.

Ia kemudian menuangkan gagasan tersebut melalui konsep kota yang tidak hanya mengatasi persoalan lalu lintas, tetapi juga membantu mengurangi kecemasan masyarakat melalui perencanaan ruang yang lebih manusiawi.

"Bagaimana jika ruang publik membantu orang menemukan pekerjaan, sekaligus memberikan kesehatan batin, tujuan hidup, dan harapan? Jangan sia-siakan kecemasan Anda, dengarkan, lalu ubahlah menjadi sesuatu," kata Rian.

CEO Nanyang Breeds Media Gandhi Priambodo mengatakan "Boundless Love" mengisahkan pasangan Indonesia dan China yang saling jatuh cinta, tetapi harus menghadapi tantangan akibat perbedaan budaya sebelum akhirnya saling memahami.

Salah satu pemenang kompetisi "The 5th ASEAN-China Friendship and Cooperation Short Video Contest" asal Indonesia, Gandhi Priambodo (paling kiri), saat menerima penghargaan di Nanning, Daerah Otonom Guangxi Zhuang, Kamis (25/6). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

"Shootingnya di Palembang dan ceritanya tentang pekerja asing China yang bekerja di pembangkit listrik di Sumatera Selatan jatuh cinta dengan seorang suster yang bekerja di satu klinik di Sumatera Selatan. Tadinya mereka tidak boleh menikah karena berbeda budaya dan tidak direstui keluarga," cerita Gandhi.

Cerita berlanjut bagaimana kisah cinta keduanya bisa tetap bertahan setelah mereka masing-masing mengetahui budaya yang berbeda itu menjadi salah satu warna.

"Kami lihat ada pengumuman kegiatan festival film pendek dari China Publisher dan alhamdulillah mendapat penghargaan terima kasih," ungkap Gandhi.

Dalam kompetisi ini, terpilih 39 karya dari China dan negara-negara ASEAN menerima penghargaan. Para pemenang berasal dari China, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, dan Thailand.

Pemenang penghargaan emas mendapatkan hadiah sebesar 1.000 dolar AS, penghargaan perak masing-masing 800 dolar AS, penghargaan perunggu masing-masing 500 dolar AS, penghargaan khusus drama mikro masing-masing 400 dolar AS serta ada juga penghargaan unggulan.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dua video asal Indonesia menangi kompetisi video pendek China-ASEAN

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026