Gorontalo (ANTARA) - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo meningkatkan wawasan kepemiluan pada kelompok disabilitas.
Ketua Bawaslu Gorontalo Utara Ronald Ismail di Gorontalo, Kamis mengatakan di tengah upaya memperkuat kualitas demokrasi yang kian diuji, pihaknya memilih memulai dari kelompok yang kerap terpinggirkan, yaitu penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.
"Kami melakukan penguatan pemahaman kepemiluan kepada penyandang disabilitas dan kelompok rentan," kata Ronald.
Hal itu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memastikan bahwa demokrasi tidak hanya menjadi milik sebagian orang, tetapi benar-benar inklusif dan setara.
Kegiatan ini kata dia, bukan sekadar rutinitas sosialisasi namun di dalamnya tersimpan dorongan untuk membangun kesadaran kritis, sekaligus keberanian politik bagi kelompok disabilitas.
Hal itu dilakukan agar disabilitas tidak lagi ditempatkan sebagai objek dalam pesta demokrasi, melainkan sebagai subjek yang aktif dan berdaya.
Ia menekankan bahwa kualitas pemilu tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara, tetapi juga oleh kualitas pemilihnya.
“Praktik pemilu yang sehat dan berkualitas menjadi harapan bersama. Kehadiran pemilih disabilitas yang cerdas dalam berdemokrasi, merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas pemilu dan demokrasi,” katanya.
Menurutnya yang dimaksud dengan pemilih disabilitas cerdas berdemokrasi bukan sekadar mereka yang datang ke tempat pemungutan suara.
Lebih dari itu, kata dia, mereka adalah warga negara yang memahami nilai-nilai demokrasi, mampu bersikap kritis terhadap dinamika politik, serta memiliki keterampilan untuk memperjuangkan kepentingan publik.
Di titik inilah tantangan terbesar berada. Selama ini, keterbatasan akses informasi dan minim nya ruang partisipasi membuat sebagian kelompok disabilitas belum sepenuhnya terlibat dalam proses demokrasi secara utuh, padahal suara mereka memiliki bobot yang sama dalam menentukan arah kebijakan publik.
Upaya ini juga menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan hanya soal angka partisipasi, tetapi juga kualitas partisipasi itu sendiri.
Ketika pemilih termasuk dari kalangan disabilitas memiliki pengetahuan, sikap kritis dan keberanian untuk menyuarakan kepentingannya, maka demokrasi bergerak menuju kedewasaan.
Bawaslu Gorontalo Utara optimistis, langkah kecil yang dimulai dari penguatan pemahaman ini akan berdampak besar pada masa depan demokrasi lokal.
"Demokrasi yang inklusif bukan sekadar slogan, melainkan kerja panjang yang harus terus dirawat dari pusat hingga ke pinggiran," imbuhnya.
Pewarta: Susanti SakoEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.