Jakarta (ANTARA) - Komandan Kelompok Pengendalian Latihan Gabungan Rim of the Pacific Exercise (RIMPAC) 2026, Laksamana Muda Suzanne Bailey, mengatakan integrasi sistem tanpa awak menjadi salah satu aspek paling menarik dari RIMPAC tahun ini.
RIMPAC merupakan latihan perang maritim internasional terbesar yang dipimpin Amerika Serikat dan digelar setiap dua tahun sekali. Latihan tahun ini berlangsung pada 24 Juni hingga 31 Juli 2026 dengan melibatkan sekitar 25.000 personel dari 31 negara, termasuk Indonesia.
"Saya telah berkecimpung di bidang sistem tanpa awak selama lebih dari satu dekade. Meski saya tidak akan membahas spesifikasi teknis demi alasan keamanan operasional, saya akan berbicara tentang nilainya," kata Bailey saat konferensi pers virtual tentang latihan bersama RIMPAC di Jakarta, Senin.
Bailey, yang merupakan pilot C-130 sekaligus komandan misi RQ-4 Global Hawk, mengatakan sistem tanpa awak bukan lagi sekadar peningkatan kemampuan Angkatan Laut, melainkan telah menjadi bagian penting dari operasi peperangan laut saat ini maupun di masa mendatang.
Menurutnya, teknologi tersebut meningkatkan kapasitas dan ketahanan, memperluas pilihan dalam operasi militer, serta menciptakan tantangan yang lebih kompleks bagi lawan.
"Dengan mengintegrasikan sistem tanpa awak, kita menghadirkan tantangan yang lebih kompleks dan tak terduga bagi musuh mana pun, meningkatkan kemampuan kita untuk mencegah agresi," katanya.
Korps Marinir TNI AL bersama kontingen dari negara lain telah mengikuti berbagai latihan, antara lain simulasi pertempuran jarak dekat dan operasi serangan melalui udara. Pada pelatihan tersebut, personel TNI AL mengajarkan teknik bertahan hidup di hutan atau jungle survival kepada prajurit dari berbagai negara.
"Marinir Indonesia tidak hanya berbagi kemampuan, tetapi juga belajar dari pengalaman negara lain. Pertukaran pengetahuan seperti ini menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan operasi bersama di masa depan," kata Komandan Unsur Tugas Marinir Indonesia RIMPAC 2026 Letkol Marinir Huda Prawira.
Ia menjelaskan materi tersebut dipilih karena prajurit TNI kerap menjalankan operasi di wilayah hutan dan pegunungan di Indonesia, sehingga memiliki pengalaman bertahan hidup dalam kondisi tersebut.
Personel Korps Marinir membagikan berbagai teknik bertahan hidup di hutan, mulai dari mengenali jenis tumbuhan dan hewan yang dapat dikonsumsi hingga cara beradaptasi dengan lingkungan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: RIMPAC 2026: Sistem tanpa awak Jadi sorotan latihan perang maritim
Pewarta: Asri Mayang SariEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.