Gorontalo (ANTARA) - Deretan tikar tergelar di bawah rindangnya pepohonan Pasar Kuliner Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Bone Bolango, Gorontalo. Di pasar ini, hidangan pangan lokal tersaji berdampingan dengan upaya menjaga kelestarian alam melalui budaya minim sampah.

Para penjual membungkus dagangannya menggunakan daun atau wadah guna ulang. Pengunjung pun dianjurkan membawa tempat makan, botol minum, dan tas belanja sendiri untuk meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai.

Pasar yang digagas oleh Komunitas Hartdisk Studio bersama warga ini menjadikan pengurangan sampah sebagai identitas. Konsep zero waste diterapkan secara konsisten dengan menekan penggunaan barang sekali pakai dan mendorong pemanfaatan wadah berkelanjutan.

Penanggung Jawab Pasar Ambuwa, Fatma Paato, menyampaikan bahwa edukasi pengurangan sampah terus diberikan kepada setiap pengunjung. Sejak memasuki area pasar, mereka diingatkan untuk tidak membawa maupun menggunakan plastik sekali pakai.

"Kadang ada pengunjung baru yang masih membawa kantong plastik. Biasanya kami tegur dan beri penjelasan. Di pintu masuk juga sudah terpasang papan informasi yang mengingatkan hal tersebut," ujar Fatma.

Menurut Fatma, sebagian besar pengunjung kini mulai memahami konsep tersebut. Meski demikian, edukasi tetap berjalan berkelanjutan agar pola hidup zero waste tidak berhenti di Pasar Ambuwa saja, melainkan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Fatma menjelaskan, nama "Ambuwa" diambil dari bahasa Gorontalo. "Ambu" berarti berkumpul, sedangkan "buwa" bermakna perempuan. Nama ini dipilih karena mayoritas penjual sekaligus penggerak pasar adalah para perempuan Desa Huntu Selatan.

Pasar Ambuwa hanya digelar dua kali dalam sebulan. Jadwal ini disesuaikan dengan kesibukan para ibu penjual dan relawan yang sehari-hari bekerja sebagai petani, pedagang sekolah, maupun ibu rumah tangga.

"Jika digelar lebih sering, para ibu dan relawan bisa kelelahan karena mereka punya kesibukan lain. Oleh karena itu, pasar hanya diadakan dua kali sebulan," tutur Fatma.

 

Ruang Belajar

Lebih dari sekadar tempat jual beli, Pasar Ambuwa menjadi ruang belajar dan berkolaborasi bagi berbagai komunitas di Gorontalo. Kehadirannya melahirkan Kelompok Usaha Ekonomi Studio Pangan Warga sebagai wadah bagi para penjual untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.

Koordinator Kelompok Usaha Ekonomi Studio Pangan Warga, Lukman Al Hakim Nur, menyebutkan bahwa meski berbentuk bazar kuliner, Pasar Ambuwa sejak awal dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan.

Suasana Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Jumat (7/8/2026). Pasar kuliner berbasis pangan lokal tersebut menerapkan konsep zero waste dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengajak pengunjung membawa wadah makan, botol minum, serta tas belanja sendiri. (ANTARA/Faradila Alim)

 

"Pasar Ambuwa ini seperti bazar makanan, tetapi konsepnya lebih hijau. Kami meminimalisasi sampah plastik dengan mengimbau pengunjung membawa wadah makan dan botol minum sendiri," kata Lukman.

Menurut Lukman, kebiasaan sederhana tersebut merupakan bagian dari edukasi lingkungan yang dibangun bersama masyarakat. Komitmen menekan sampah plastik ini diinisiasi sejak masa pandemi COVID-19 dan dipertahankan hingga menjadi budaya pasar.

Tak hanya pengurangan plastik, seluruh transaksi di Pasar Ambuwa juga dilakukan secara nontunai menggunakan sistem unik. Sebelum berbelanja, pengunjung menukarkan uang mereka dengan keping tempurung kelapa di loket masuk.

Keping tempurung menjadi satu-satunya alat pembayaran resmi di area pasar. Satu keping bernilai Rp6.000, dengan rincian Rp5.000 untuk berbelanja dan Rp1.000 untuk dana operasional bersama, seperti kebersihan, listrik, dan perawatan fasilitas.

Lukman menegaskan, tujuan utama Pasar Ambuwa adalah menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk kembali mengenali pangan dan tradisi lokal Gorontalo.

"Konsep dasarnya adalah tempat belajar bersama, baik bagi warga desa maupun masyarakat umum, untuk mengenal serta mengedukasi tentang pangan dan tradisi lokal," jelasnya.

Semangat ini turut dirasakan oleh salah satu pengunjung, Annisa Insyah. Menurutnya, Pasar Ambuwa memberi ruang bagi setiap orang untuk berperan aktif dalam membangun pola konsumsi yang lebih bijak.

"Pasar ini menjadi tempat saya belajar tentang pola konsumsi yang bertanggung jawab, dimulai dari hal sederhana seperti mengurangi sampah plastik dan lebih menghargai keragaman pangan," tuturnya.


Meski begitu, Annisa mengakui bahwa mengubah kebiasaan bukanlah hal mudah. Ia terkadang masih menggunakan wadah sekali pakai ketika lupa membawa tempat makan atau botol minum sendiri.

Di sisi lain, Annisa kerap tergiur membeli banyak makanan karena beragam sajian lokal yang ada mulai jarang ditemui di tempat lain.

Pengunjung lainnya, Ahmad Faruq Ananda, menilai daya tarik Pasar Ambuwa tidak hanya terletak pada kuliner tradisionalnya, tetapi juga pada konsistensi penerapan konsep zero waste. Perpaduan keduanya memberikan pengalaman berbelanja yang unik.

"Saya sangat terkesima. Pasar ini berbeda karena menyajikan makanan tradisional yang mulai langka. Di saat yang sama, pengunjung diajak mengurangi sampah plastik sehingga lingkungannya tetap bersih dan nyaman untuk bersantai bersama keluarga," ungkap Faruq.

Menurut Faruq, kebiasaan membawa wadah makan dan botol minum sendiri adalah langkah kecil berdampak besar. Selain mengurangi timbulan sampah, kebiasaan ini membantu menekan pencemaran plastik, melindungi ekosistem, dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Ia berharap tradisi ini terus dipertahankan.

 

Semua terlibat

Anggota Hartdisk Studio, Zahra Khan, mengatakan kampanye pangan lokal di Pasar Ambuwa tidak dijalankan hanya oleh komunitas penggagas, tapi melibatkan para penjual, relawan, hingga setiap pengunjung yang datang.

"Pasar ini sebenarnya adalah gerakan kampanye pangan lokal hijau. Yang mengampanyekan bukan hanya Hartdisk Studio, melainkan warga dan seluruh pengunjung," ujar Zahra.

 

Menurut Zahra, tantangan Pasar Ambuwa saat ini bukan hanya mengurangi penggunaan sampah plastik, tetapi juga memperkuat edukasi tentang pangan lokal dan membangun kesadaran pengunjung untuk mengonsumsi makanan secara bijak.

Ia menjelaskan, masih banyak pengunjung baru yang belum memahami sistem transaksi di Pasar Ambuwa.

Karena satu keping tempurung hanya bernilai sekitar Rp6.000, sebagian pengunjung menukarkan uang dalam jumlah besar agar tidak perlu kembali mengantre di loket.

Kondisi tersebut sering mendorong pengunjung membeli makanan melebihi kebutuhan. Kekhawatiran makanan akan habis di lapak membuat sebagian orang membeli terlalu banyak, sehingga tidak dihabiskan dan menjadi limbah pangan (food waste).

"Tantangan hari ini itu bukan cuma tentang sampah plastik, tapi juga edukasi pangan lokal dan bagaimana orang makan dengan lebih sadar. Banyak pengunjung yang beli berlebihan karena takut kehabisan, padahal akhirnya tidak habis," kata Zahra.

Menurutnya, persoalan sisa makanan juga perlu mendapat perhatian karena limbah pangan turut memberikan dampak terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, edukasi mengenai konsumsi secara bijak dan pengurangan limbah makanan akan menjadi fokus pengembangan Pasar Ambuwa ke depan.

Meski demikian, perubahan mulai terlihat. Sejumlah penjual kini menyediakan pilihan porsi kecil pada beberapa menu agar pengunjung dapat membeli sesuai kebutuhan dan mengurangi potensi makanan terbuang.

"Beberapa menu sudah mulai dibuat porsi kecil. Ini salah satu cara untuk mencegah makanan tersisa," ujarnya.

Bagi Hartdisk Studio, Pasar Ambuwa adalah gerakan bersama yang memadukan pelestarian pangan lokal, pemberdayaan perempuan, dan gaya hidup zero waste. Melalui kebiasaan sederhana, masyarakat diajak membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab terhadap pangan, lingkungan, dan budaya.

Dalam setiap penyelenggaraan Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, perubahan itu tumbuh dari tikar-tikar sederhana, tempat warga berkumpul, berbagi hidangan tradisional, dan belajar menjaga bumi secara berkelanjutan


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pasar Ambuwa: ruang edukasi zero waste dan pangan lokal Gorontalo

Pewarta: Faradila Alim
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026