Gorontalo (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mencatat sekitar 20 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terjadi di Kabupaten Bone Bolango selama satu bulan terakhir akibat kemarau panjang.

Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Provinsi Gorontalo Mohamad Tahir Laendeng di Gorontalo, Senin, mengatakan Bone Bolango menjadi wilayah dengan frekuensi kejadian karhutla tertinggi selama periode tersebut.

"Untuk kebakaran hutan dan lahan ini, kami menerima laporan kemarin ada sekitar 20 kali kejadian di wilayah Bone Bolango," katanya.

Selain Bone Bolango, karhutla juga terjadi di Kota Gorontalo dengan intensitas hampir 10 kejadian selama satu bulan terakhir.

Sementara itu, dampak karhutla terparah terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara. Kebakaran besar dilaporkan menghanguskan sebuah perusahaan kayu di Desa Monano, Kecamatan Monano.

BPBD juga menerima laporan kebakaran lahan di belakang kompleks Kantor Bupati Gorontalo Utara. Menurut Tahir, wilayah tersebut menjadi daerah dengan dampak karhutla terparah karena penanganannya membutuhkan waktu cukup lama dan melibatkan banyak armada serta personel gabungan.

"Proses pemadaman api cukup melelahkan karena membutuhkan banyak armada dan personel gabungan," ujarnya.

Di Bone Bolango, intensitas kebakaran juga masih tinggi dalam beberapa hari terakhir. Pada pekan lalu, tim gabungan dari Polda Gorontalo, pemadam kebakaran, dan BPBD turun menangani kebakaran di Desa Lombongo, Kecamatan Suwawa.

Mengantisipasi peningkatan kejadian selama kemarau panjang, BPBD Provinsi Gorontalo memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mempercepat penanganan kebakaran di lokasi kejadian.

Koordinasi melibatkan pemadam kebakaran kabupaten dan kota, perusahaan daerah air minum (PDAM), BPBD kabupaten dan kota, TNI, Polri, serta Palang Merah Indonesia (PMI).

Kolaborasi tersebut dilakukan untuk mempercepat pendistribusian air sekaligus mendukung proses pemadaman ketika terjadi karhutla.

BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kemarau dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah, maupun membuka lahan pertanian dengan cara dibakar.

Masyarakat juga diminta menggunakan air bersih secara bijak serta aktif mengikuti informasi perkembangan cuaca dari otoritas resmi.

"Jika terjadi masalah atau dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan pada kemarau panjang ini, silakan menghubungi pemegang atau pengendali otoritas setempat agar dapat segera ditindaklanjuti," kata Tahir.



Pewarta: Faradila Alim
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026