Moskow (ANTARA) - Kementerian Pertahanan Spanyol meyakini kedatangan migran ilegal secara massal ke wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, bukan sebagai krisis migrasi melainkan serangan terhadap integritas wilayah Spanyol, kata Wali Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas pada Rabu (12/8).

"Menteri [Pertahanan Margarita Robles] sependapat dengan kami bahwa apa yang terjadi di Ceuta pada 30 Juli lalu bukanlah krisis migrasi. Ia sepakat dengan kami bahwa apa yang terjadi pada 30 Juli sangat serius karena merupakan serangan terhadap integritas wilayah Spanyol," kata Vivas kepada wartawan.

Oleh karenanya, menhan berjanji kementerian akan mengerahkan sumber daya sebanyak yang diperlukan, tanpa batasan apa pun, untuk menjamin keamanan perbatasan antara Spanyol dan Maroko, katanya.

Saat dimintai komentar soal rumor penerapan jam malam di kota tersebut, Vivas mengaku tidak memiliki informasi itu.

"Tetapi, saya mengimbau warga Ceuta untuk berhati-hati. Ada 10.000 orang yang datang ke Ceuta dalam sehari, dan kami tidak tahu siapa mereka atau seperti apa mereka," katanya.

Pada akhir Juli, Ceuta menghadapi gelombang migrasi ilegal besar-besaran dari Maroko. Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, mengatakan sekitar 72.000 migran tiba di Spanyol dari Maroko, dengan sekitar 70.000 di antaranya telah kembali.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Spanyol sebut migrasi massal ke Ceuta sebagai ancaman wilayah

Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026