Gorontalo (ANTARA) - Dua orang aparatur sipil negara (ASN) Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, berhasil mendiseminasikan hasil riset penelitian mereka dalam forum ilmiah internasional.

Keduanya adalah mahasiswa program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo (Unigo), yaitu Novarianny Nasibu dan Hasnuri, yang sukses mempresentasikan hasil penelitian pada The 7th International Scientific Meeting on Public Health and Sports (ISMoPHS) 2026.

Novarianny Nasibu mengangkat penelitian berjudul “Health Workers’ Performance in Rabies Case Management in Gorontalo Province”. 

Penelitian tersebut mengkaji kinerja tenaga kesehatan dalam penatalaksanaan kasus rabies di Provinsi Gorontalo.

Salah satu isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan sistem respons terhadap penyakit zoonosis.

Hasnuri mempresentasikan penelitian berjudul “Environmental Determinants of Leptospirosis in the Tilango Community Health Center Area”. 

Penelitian ini menyoroti berbagai faktor lingkungan yang berpotensi berhubungan dengan kejadian leptospirosis di wilayah kerja Puskesmas Tilango.

Kedua penelitian tersebut dinilai memiliki relevansi kuat dengan tantangan kesehatan masyarakat di Gorontalo, khususnya dalam pengendalian penyakit zoonosis dan penguatan intervensi berbasis faktor risiko lingkungan.

Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa di Kota Gorontalo, Selasa mengapresiasi capaian kedua ASN tersebut. 

Menurutnya keterlibatan tenaga kesehatan dalam kegiatan penelitian dan forum ilmiah internasional menjadi bagian penting dalam membangun budaya kerja yang berbasis bukti (evidence-based practice).

“Kami mengapresiasi Novarianny dan Hasnuri yang tidak hanya menjalankan tugas sebagai ASN dan tenaga kesehatan, tetapi juga aktif mengembangkan kapasitas akademik melalui penelitian. Hasil penelitian yang relevan dengan persoalan kesehatan di Gorontalo diharapkan dapat menjadi masukan bagi penguatan kebijakan dan program kesehatan berbasis bukti,” katanya.

Pengembangan kompetensi sumber daya manusia kesehatan tidak cukup hanya melalui peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga perlu didukung kemampuan melakukan kajian, menganalisis masalah dan menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di lapangan.

“Penelitian harus berujung pada manfaat. Kami berharap pengalaman ini mendorong lebih banyak tenaga kesehatan di lingkungan Dinkes P2KB untuk membangun tradisi riset, menghasilkan inovasi dan mengimplementasikan hasil penelitian dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat,” kata Anang.

Apresiasi serupa disampaikan Kepala Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Gorontalo Muhammad Ramdhan. 

Ia mengatakan diseminasi hasil penelitian pada forum internasional merupakan capaian penting bagi mahasiswa Pascasarjana sekaligus menjadi bagian dari upaya Universitas Gorontalo memperkuat ekosistem penelitian.

“Kami bangga atas capaian mahasiswa Pascasarjana Universitas Gorontalo yang mampu membawa hasil penelitian mengenai persoalan kesehatan masyarakat Gorontalo ke forum ilmiah internasional. Ini menunjukkan bahwa penelitian yang lahir dari lingkungan akademik daerah memiliki relevansi dan nilai kontribusi yang dapat dibawa ke ruang akademik yang lebih luas,” katanya. 
 



Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026