Gorontalo (ANTARA) - Dokter di Provinsi Gorontalo mengikuti program pendidikan spesialis, melalui seleksi program studi baru yang telah diluncurkan dalam PPDS Hospital-Based Batch V, berlangsung di auditorium Dr J Leimena, Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa di Gorontalo, Senin mengatakan studi PPDS memperkuat pelayanan dan pemerataan tenaga medis.

Mengutip penjelasan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, kata Anang, program Hospital-Based lahir dari persoalan nyata terkait masih terbatasnya jumlah dokter spesialis dan belum merata nya distribusi tenaga spesialis di Indonesia.

Menurutnya perluasan pendidikan dokter spesialis melalui skema Hospital-Based menjadi peluang strategis untuk memperkuat ketersediaan tenaga medis spesialis di daerah, termasuk Gorontalo.

“Program ini menjadi langkah penting untuk memperluas akses pendidikan dokter spesialis, sekaligus menjawab kebutuhan tenaga spesialis di daerah,” kata Anang.

Dalam program PPDS Batch IV, terdapat satu calon peserta atas nama Siti Indhira Yanhi pendidikan spesialis Neurologi akan mengisi kebutuhan dokter spesialis di Kabupaten Gorontalo.

“Yang paling penting bagi kami adalah bagaimana pendidikan dokter spesialis ini pada akhirnya memberikan dampak langsung terhadap masyarakat khususnya di Gorontalo," kata Anang.

Satu peserta yang mengisi kebutuhan dokter spesialis di Kabupaten Gorontalo, merupakan bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan dan pemerataan tenaga kesehatan di daerah.

Sebanyak 54 peserta PPDS Batch IV diserahterimakan kepada enam RSPPU, untuk memulai pendidikan dokter spesialis pada berbagai bidang keilmuan.

Peserta terdiri atas 10 orang pada program studi jantung dan pembuluh darah di Rumah Sakit (RS) Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, delapan orang pada program studi ilmu kesehatan anak di RS Anak dan Bunda Harapan Kita, enam orang pada program studi Onkologi Radiasi di RS Kanker Dharmais, 10 orang pada program studi Ortopedi dan Traumatologi di RS Ortopedi Prof Dr R Soeharso.

10 orang pada program studi Ilmu Kesehatan Mata di RS Mata Cicendo serta 10 orang pada program studi Neurologi di RS Pusat Otak Nasional Prof Dr dr Mahar Mardjono.

Dengan serah terima peserta PPDS Batch IV dan peluncuran seleksi program studi baru PPDS berbasis rumah sakit ini, diharapkan pengembangan pelayanan kesehatan semakin memperluas kapasitas rumah sakit sebagai pusat pendidikan dokter spesialis tanpa mengabaikan standar mutu dan kompetensi lulusan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meluncurkan program berbasis rumah sakit atau Hospital-Based pada Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) Batch V, sekaligus serah terima peserta PPDS Batch IV kepada enam RSPPU.

Menurut Menkes pengembangan pendidikan spesialis tidak cukup hanya dengan menambah jumlah peserta didik, tetapi juga harus memperluas rumah sakit yang menjadi pusat pendidikan dan memastikan kualitas pendidikan sesuai standar internasional.

“Hospital-based-nya jalan karena kita harus memperbanyak sentra pendidikannya. Kita tidak punya 3.000 fakultas kedokteran, tetapi kita punya 3.200 rumah sakit. Di luar negeri pendidikan postgraduate medical education juga dilakukan di rumah sakit,” kata Menkes.



Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026