Gorontalo (ANTARA) - Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mulyonegoro, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Kamis, setelah mendapat laporan sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan.

SPPG yang berada di bawah Yayasan Rumah Inovasi Madani tersebut mengelola sekitar 2.110 porsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Idah yang juga Ketua Satgas MBG Provinsi Gorontalo mengatakan terdapat enam siswa SDN 11 Pulubala, yang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan dan diduga berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi.

Pada hari kejadian, menu MBG yang dibagikan kepada siswa terdiri atas nasi, telur ceplok saus kecap, sayur wortel menggunakan laksa tahu, serta buah apel.

Namun, Idah menegaskan belum dapat menyimpulkan bahwa keluhan kesehatan tersebut disebabkan oleh makanan MBG.

Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan bersama Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Gorontalo.

“Ini masih praduga. Kita masih menunggu hasil laboratorium yang ditangani langsung oleh Dinas Kesehatan dan BPOM Provinsi Gorontalo. Jadi kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa ini keracunan akibat MBG sebelum ada hasil pemeriksaan,” tegas Idah.

Meski penyebab keluhan belum diketahui, Idah meminta seluruh pengelola SPPG memperketat pengawasan terhadap setiap tahapan penyediaan makanan dalam program MBG.

Menurutnya, pengawasan harus dilakukan secara ketat karena makanan yang disiapkan melalui program tersebut dikonsumsi masyarakat, terutama anak-anak.

“Saya tetap memberikan warning kepada seluruh SPPG. Jangan lengah. Jangankan enam anak, satu anak saja mengalami persoalan pasti akan menjadi sorotan. Apalagi program MBG ini menjadi perhatian masyarakat luas,” ujarnya.

Idah meminta pengawasan dilakukan sejak pemilihan bahan makanan, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, pengemasan hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.

Ia juga mengingatkan kepala SPPG dan mitra agar tidak sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab kepada petugas teknis, tetapi ikut memastikan seluruh tahapan penyediaan makanan berjalan sesuai standar.

Khusus ahli gizi, Idah meminta pengelolaan menu dilengkapi rekapan dan laporan serta perhitungan angka kecukupan gizi. Dengan demikian, menu yang disajikan dapat dipastikan sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.

“Untuk ahli gizi, saya mohon harus mempunyai rekapan, laporan, dan data menu-menu yang sudah disajikan maupun yang akan disajikan. Misalnya dalam satu minggu menunya apa saja, itu harus tertulis dan disertai angka kecukupan gizinya. Jangan hanya teori, tetapi harus benar-benar diterapkan dalam praktik,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari pihak sekolah, sejumlah siswa yang mengalami keluhan sebelumnya sempat mengonsumsi makanan dari kantin sekolah sebelum menerima MBG. Sebagian siswa lainnya juga diketahui tidak sarapan dari rumah.

Informasi tersebut turut menjadi bahan dalam pemeriksaan untuk memastikan penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa.

Puskesmas Pulubala telah melakukan observasi dan memberikan penanganan serta obat kepada para siswa. Hingga Rabu (9/9) pukul 14.10 WITA, seluruh siswa yang sebelumnya mengalami keluhan dilaporkan telah pulih dan diperbolehkan pulang.

Idah menegaskan Tim Satgas MBG Provinsi Gorontalo akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.

Ia meminta setiap laporan yang muncul menjadi bahan evaluasi bagi pengelola SPPG untuk memperbaiki pelaksanaan program dan mencegah persoalan serupa.

Pemeriksaan Dinas Kesehatan dan BPOM Provinsi Gorontalo masih berlangsung.

Hasil laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan apakah keluhan kesehatan yang dialami siswa berkaitan dengan makanan MBG atau faktor lainnya.



Pewarta: Faradila Alim
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026