Polisi: Begal sadis di Medan selalu operasi pagi hari

Polisi: Begal sadis di Medan selalu operasi pagi hari

Salah satu korban begal bernama Rahmat (34) saat menunjukkan luka sabrtan di tangannya. (ANTARA/Nur Sitorus)

Medan (ANTARA) - Kepala Polrestabes Medan Komisaris Besar Polisi Dadang Hartanto mengatakan para pelaku tindak kejahatan begal kerap melakukan aksinya di pagi hari.
Untuk itu ia menghimbau kepada masyarakat kota Medan untuk selalu waspada apabila melakukan aktivitas perjalanan di pagi hari, terutama di lokasi yang rawan.

"Meski petugas kepolisian terus berupaya meningkatkan keamanan di kota Medan, kita harapkan kepada masyarakat untuk selalu waspada," katanya saat konferensi pers di RS Bhayangkara Medan, Rabu.

Sebelumnya polisi telah menangkap  empat pelaku begal sadis, dua di antaranya bahkan ditembak mati.

Para pelaku ini kerap melukai korbannya dengan cara menyabet tangan kanan para korban. "Modus para pelaku ini selalu melakukan aksi di pagi hari atau saat Subuh, dan selalu tangan kanan para korban yang di sabet dengan senjata tajam," ujarnya.

Adapun dua pelaku yang di tembak mati yakni Guntur Syahputra (29) dan Leou Halawa (25), keduanya merupakan warga Jalan Diponegoro Gang Golf Medan.

Sementara kedua pelaku lain yakni Tengku Aditya Hidayat (20) dan Muhammad Febrian (26) mendapat tembakan di bagian kaki kanan dan kirinya. "Mereka ini dikenal dengan sebutan 'Komplotan Guntur' yang selalu melukai para korban-korbannya," jelasnya.
 
Kepala Polda Sumatera Utara Inspektur Jenderal Polisi Agus Andrianto didampingi Kepala Polrestabes Medan Komisaris Besar Polisi Dadang Hartantodan pejabat kepolisian lainnya saat menunjukkan korban. (ANTARA/Nur Sitorus)


Diketahui, penangkapan keempat tersangka ini pada Sabtu (17/8) sekitar pukul 16.00 WIB, terhadap tersangka Tengku Aditya, di Jalan Sampul Medan, dan tersangka Muhammad Febrian, di Jalan Sosial Medan.

Setelah dilakukan pengembangan, Senin (19/8) sekitar pukul 04.30 WIB, diketahui keberadaan tersangka Guntur di Jalan Setia Budi Medan. Kemudian petugas langsung melakukan pengejaran dan berhasil menangkap tersangka.

Setelah dilakukan interogasi, di dapat satu nama tersangka lainnya atas nama Leou Halawa. Kemudian tim melakukan pengejaran dan berhasil menangkap tersangka di Jalan Dipanegara Medan.

Kedua tersangka yakni Guntur dan Leou mengatakan bahwa mereka menyimpan senjata tajam di daerah Sunggal.

Namun, saat dibawa ke tempat yang di katakan, kedua tersangka secara tiba-tiba mengambil pisau dari semak-semak yang diduga telah di simpan sebelumnya dan melukai petugas an. Bripka Johanes Purba Sehigga di bagian lengan tangan kiri.

Para tersangka terus berupaya melukai petugas lainnya, sehingga diberikan tembakan peringatan. Namun, kedua pelaku tetap melukai petugas sehingga kedua pelaku dengan terpaksa dilakukan tindakan tegas Kepolisian.

Kedua pelaku kemudian dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara guna pertolongan medis namun kedua pelaku kehabisan darah dan meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara.

Tersangka Tengku Aditya dan Muhammad Febrian ini berperan sebagai joki saat melakukan tindak pidana. Sedangkan pelaku Guntur dan Leou berperan melukai korban dengan senjata tajam.

Keempat pelaku 'Komplotan Guntur' ini telah melakukan tindak pidana kejahatan di tujuh Tempat Kejadian Perkara (TKP) yakni di Jalan Wahid Hasyim Kecamatan Medan Baru, Jalan DC Barito Kecamatan Medan Polonia, Jalan Ir Juanda Kecamatan Medan Polonia (depan RS TNI AU Abdul Malik).

Jalan Dr Mansyur Kecamatan Medan Baru (depan Fakultas Kedokteran USU), Jalan Imam Bonjol Kecamatan Medan Polonia (depan Bank Sumut), Jalan Hasanuddin Kecamatan Medan Baru, Jalan Mongonsidi Medan, Jalan Patimura Kecamatan Medan Baru (depan kantor BPJS).

Dalam pengungkapan kasus begal sadis yang dilakukan kelompok tersebut, petugas juga menghadirkan sejumlah korban diantaranya Ali Indra (45), Reza (19) dan Rahmat (34).
 
Pewarta : Nur Aprilliana Br. Sitorus
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019