Surabaya hentikan penggunaan 4 hotel untuk isolasi pasien COVID-19

Surabaya hentikan penggunaan 4 hotel untuk isolasi pasien COVID-19

Dokumentasi - Sejumlah warga yang dinyatakan sembuh dari COVID-19 saat dipulangkan dari tempat karantina di Asrama Haji Surabaya, Kamis (2/6/2020). (FOTO ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)

Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Kota Surabaya menghentikan penggunaan empat hotel untuk isolasi pasien terkonfirmasi positif COVID-19 menyusul saat ini tidak ada pasien yang dirawat karena banyak yang sudah sembuh.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Jumat, mengatakan biasanya sampai empat hotel di Surabaya yang digunakan sebagai tempat isolasi pasien.

"Tapi kemarin, hanya tinggal empat pasien yang masih menjalani perawatan isolasi di hotel. Empat orang itu kita percepat hasil swab-nya agar bisa keluar sehingga hotel saat ini kosong sudah dua hari ini kita tidak manfaatkan," ujarnya.

Baca juga: Ranjang pasien COVID-19 di Surabaya banyak yang kosong

Baca juga: Razia protokol kesehatan di Surabaya dilakukan siang dan malam


Sementara di Asrama Haji, kata dia, dari sekitar 101 pasien yang sedang menjalani perawatan, ada sekitar 75 orang dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Namun, apabila Asrama Haji tak lagi menerima pasien, maka pemkot juga akan menghentikan isolasi di tempat tersebut.

"Karena kemungkinan yang 25 itu kita dorong untuk bisa keluar secepatnya," katanya.

Bahkan, Risma menyebut Pemkot Surabaya akan terus berupaya mempercepat pemeriksaan swab kepada pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Artinya, pasien itu sebelumnya melakukan isolasi mandiri di rumah akan didorong untuk menjalani perawatan di Asrama Haji.

"Jadi kita masih dorong warga-warga itu untuk masuk Asrama Haji, tapi kalau mereka tidak mau ya kita akan tutup Asrama Haji, karena posisinya pasien yang mau (menjalani isolasi) di situ sudah habis," katanya.

Baca juga: Dinkes Surabaya jelaskan aturan tes usap gratis di Labkesda

Baca juga: DPRD apresiasi kinerja Risma tuntaskan laboratorium swab gratis


Meski demikian, Wali Kota Risma berharap kepada seluruh masyarakat agar tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Sebab, kalau masih ada penularan maka hal itu akan menjadi berat. Karenanya disiplin menjaga protokol kesehatan itu sangatlah penting dalam memutus mata rantai COVID-19.

"Artinya bahwa kita rajin cuci tangan untuk kesehatan kita, pakai masker dan jaga jarak untuk kesehatan kita itu semua bagus. Ada atau tidak ada COVID-19 ini sebetulnya perilaku yang bagus ini harus tetap kita lanjutkan," ujarnya.

Menurutnya, saat ini tingkat kesembuhan pasien COVID-19 di Surabaya tinggi, sedangkan penularannya rendah sehingga jumlah pasien yang menjalani perawatan di hotel maupun Asrama Haji banyak yang sembuh.

Baca juga: Risma resmikan Labkesda untuk tes usap COVID-19 gratis warga Surabaya

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, tren kesembuhan pasien dalam satu bulan ini rata-rata per hari 80 ke atas.

"Untuk menjaga tren membaik kita tidak boleh lengah, justru kita malah turun dan agak keras. Kita turun lebih sistemik dibanding kemarin-kemarinnya," katanya.

Risma menyatakan bahwa pihaknya bersama jajaran TNI dan Polri akan terus berupaya memutus mata rantai COVID-19. Untuk itu, dengan adanya penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan diharapkan efektif mendisiplinkan masyarakat.

"Kita harapkan denda-denda ini efektif dan bisa memberikan efek jera. Justru kita sekarang sering razia. Turun terus kita pantau terus daerah-daerah yang rawan," katanya.

Baca juga: Risma sebut 70 persen kasus COVID-19 terjadi pada anak muda
 
Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020