Sektor UMKM di Aceh mulai jajaki pasar digital

Sektor UMKM di Aceh mulai jajaki pasar digital

Dokumentasi - Plt Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati (kanan) meninjau produk-produk UMKM Aceh yang akan di pasarkan ke wilayah Timur Aceh hingga Sumatera Utara di Banda Aceh, Jumat (31/1/2020). (ANTARA/HO-Humas Pemprov Aceh)

Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Aceh melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Aceh mulai menjajaki pemasaran produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui pasar digital, di tengah pandemi COVID-19.

"Saat ini memasuki masa Industri 4.0, mau tidak mau pengusaha kita harus bergerak ke arah digital," kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Aceh Wildan, di Banda Aceh, Kamis.

Dalam sebuah webinar bertajuk "Perluasan Akses Pemasaran UMKM melalui Platform Digital"  yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Banda Aceh, Wildan mengatakan, hingga Oktober 2020 data UMKM di daerah Tanah Rencong telah mencapai 212.632 unit, terbagi atas usaha menengah sebanyak 2.679 unit, usaha kecil 40.780 unit, dan usaha mikro 169.173 unit.

Untuk usaha kecil dan menengah dibawah tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) pemerintah provinsi, sedangkan usaha mikro dibawah pemerintah kabupaten/kota, serta usaha dengan skala besar dibawah pemerintah pusat.

"Kehidupan ekonomi di Indonesia itu 99 persen dipegang oleh UMKM ini, diluar usaha besar. Kehidupan ekonomi memang bergerak disini, oleh karenanya yang mikro ini meski bukan tupoksi, tapi tetap kita memberikan perhatian," ujarnya.

Selain UMKM, di Aceh juga terdapat 6.480 unit koperasi, yang di antaranya 75 unit dibawah kewenangan pemerintah provinsi, serta ribuan unit koperasi lainnya dibawah binaan pemerintah kabupaten/kota di seluruh Aceh.

Usaha mikro memang paling dominan di wilayah Aceh yang mencapai 169.173 unit. Kata dia, jumlahnya meningkat drastis pada akhir-akhir ini, yang disebabkan karena adanya bantuan presiden bagi pelaku usaha mikro di setiap daerah.

"Selama ini ada bantuan presiden untuk usaha mikro yang Rp2,4 juta itu sehingga terjadi pembengkakan jumlahnya. Sementara pada akhir tahun lalu angka usaha mikro ini hanya sekitar 70 ribu unit," kata dia.

Jumlah usaha usaha mikro ini memang besar sekali. Karena kadang-kadang mereka muncul, tapi kadang-kadang nanti hilang lagi, jadi data sekitar 169 unit itu tidak bisa dipegang sepenuhnya. Tapi yang usaha kecil dan menengah ini sudah terdata dengan baik, ujarnya.

Wildan menyebutkan, sejak merebak COVID-19 sektor UMKM di Aceh sangat terkena dampak. Sebab itu pihak sedang berupaya untuk melakukan transformasi UMKM di Aceh ke pasar digital.

Pihaknya sedang menyiapakan berbagai hal terkait koperasi dan UMKM, mulai dari peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, perbaikan proses bisnis, perluasan akses pasar, serta adanya local heroes dari Kemenkop dan UKM.

"Kita tidak boleh mati dengan pandemi ini, kita harus lari betul-batul. Pandemi harus kita anggap sebagai pemicu untuk kita bergerak," katanya.

"Kami di Aceh mencita-citakan dalam akhir tahun ini harus sudah ada 28 koperasi, dengan 3.000 UMKM yang melaksanakan sistem secara digital ini. Dari 23 kabupaten/kota masing-masing satu koperasi, dan ditambah binaan provinsi lima koperasi," ujarnya.
Baca juga: Gubernur Aceh dorong UMKM manfaatkan teknologi digital
Baca juga: BRI Wilayah Aceh salurkan kredit UMKM Rp7,6 triliun
Baca juga: Wali kota: UMKM produksi masker, dukung penanganan corona

 
Pewarta : Khalis Surry
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020