Penanganan TBC berpotensi alami kemunduran karena pandemi, kata pakar

Penanganan TBC berpotensi alami kemunduran karena pandemi, kata pakar

Pulmono‎log Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama saat memberikan komentar pada acara Temu Media secara virtual dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS), Selasa, (23/3/2021). (ANTARA/Andi Firdaus).

Jakarta (ANTARA) - Pakar kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan kemajuan dalam penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) berpotensi mengalami kemunduran akibat pandemi COVID-19.

"Sebenarnya sudah menuju ke arah bagus sesuai dengan laporan global kasus TBC pada 2019 di Asia Tenggara," kata Pulmonolog itu pada acara Temu Media secara virtual dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) diikuti di Jakarta, Selasa.

Tjandra melaporkan sejumlah kemajuan penanganan penyakit TBC berdasarkan 'Global Report TB' di Asia Tenggara dalam kurun 2014 hingga 2019.

Baca juga: Kemenkes perkuat kesinambungan penanganan TBC dan COVID-19

Laporan itu di antaranya temuan kasus TBC meningkat menjadi 3,36 juta kasus pada 2018 dari 2,6 juta kasus pada 2015 atau meningkat sekitar 20 persen.

Tingkat keberhasilan pengobatan di antara pasien baru TBC yang sensitif terhadap obat juga meningkat dari 79 persen di 2014, menjadi 83 persen pada 2017.

Perkiraan laju kematian akibat TBC juga menurun secara stabil dari 758.000 pada 2015 menjadi 658.000 pada 2018.

Baca juga: Pelacakan TBC terkendala selama pandemi COVID-19

Pada laporan kejadian 2019, kata Tjandra, Asia Tenggara menyumbang 4,3 juta kasus TBC dari total kasus di dunia mencapai 10 juta kasus dengan angka kematian mencapai 1,2 juta orang.

"Indonesia salah satunya dengan 632 ribu angka kematian," katanya.

Tjandra mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan target pencapaian atas penanggulangan TBC pada 2020.

Baca juga: Pengidap TBC jadi komponen bantuan PKH dimatangkan Kemensos-Kemenkes

Target yang dimaksud di antaranya pelacakan dan pengobatan terhadap 40 juta orang terpapar TBC, memberikan terapi pencegahan penyakit terhadap 30 juta orang serta target lainnya dalam upaya menurunkan angka kematian.

"Karena itu di 2020 diharapkan tinggal landas, tapi kita tahu ada COVID-19 di 2020 sehingga target pencapaian jadi sulit," katanya.

Tjandra memperkirakan gangguan dalam penanggulangan TBC akibat COVID-19 dapat membawa indikator penanganan kasus mengalami kemunduran lima hingga delapan tahun mendatang.

Baca juga: Kemensos sebut tahun 2021 penderita TBC terima PKH

Analisis di tingkat global juga menunjukkan bahwa jika deteksi kasus TBC global menurun rata-rata 25 persen selama periode tiga bulan, maka terjadi tambahan 190 ribu kematian akibat TBC.

"Ini berarti 100 ribu kematian TBC tambahan akan terjadi dalam satu tahun di kawasan Asia Tenggara," katanya.

Baca juga: Presiden ingin penanganan TBC dan COVID-19 dilakukan bersamaan
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021