Karantina Pertanian Surabaya musnahkan ratusan burung asal Ende

Karantina Pertanian Surabaya musnahkan ratusan burung asal Ende

Petugas Karantina Pertanian Surabaya menunjukkan burung yang mengandung virus flu burung. ANTARA/Indra/am.

Sidoarjo (ANTARA) -
Petugas Karantina Pertanian Surabaya, Jawa Timur, melakukan pemusnahan 156 ekor burung asal Ende, Nusa Tenggara Timur, dan 1 kotak telur asal Taiwan karena tanpa dilengkapi dengan dokumen.
 
Musyaffak Fauzi Kepala Karantina Pertanian Surabaya saat dikonfirmasi di Sidoarjo, Selasa mengatakan pemusnahan merupakan salah satu tindakan karantina yang disebut dengan "8P" yakni, pemeriksaan, pengamatan, pengasingan, penolakan, penahanan, perlakuan, dan pemusnahan.
 
"Ratusan Burung tanpa dokumen tersebut merupakan hasil limpahan dari Ditpolairud Polda Jatim pada 22 Maret 2021. Jenis burung yang dimusnahkan adalah anis kembang, branjangan, decu, tledekan, ciblek, dan bimoli," katanya di sela kegiatan pemusnahan di kantor Karantina Pertanian Surabaya.
 
Ia mengatakan, sejumlah 156 burung tersebut berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur dan dua di antaranya yaitu bimoli dan tledekan teridentifikasi positif Avian Influenza (AI).

Baca juga: Karantina Pertanian Surabaya sita burung dan kura-kura asal Makasar

Baca juga: Hati-hati beli benih tanaman impor secara daring, bisa kena sanksi ini
 
"Namun bersamaan dengan keluarnya hasil uji laboratorium, kedua burung tersebut mati. Oleh karena itu untuk memutus penyebaran AI, maka dilakukan pemusnahan terhadap keseluruhan burung dimaksud," ujarnya.
 
Selain burung, kata dia, hari ini juga dimusnahkan 1 kotak telur berisi 14 butir tanpa dokumen dari Taiwan. Telur-telur tersebut merupakan hasil penahanan dari Karantina Pertanian Surabaya wilayah kerja Kediri.
 
"Pemusnahan dilakukan karena ratusan burung tersebut mati (143 ekor), juga ada yang positif AI. Avian Influenza merupakan salah satu penyakit yang berbahaya bagi unggas karena menyebabkan tingkat kematian yang tinggi dan bersifat zoonosis. Selain itu, juga terdapat telur tanpa dokumen dari Taiwan dalam kondisi sebagian pecah dan busuk," tukasnya.
 
Menurutnya, pemusnahan tersebut telah sesuai dengan UU No. 21 Tahun 2019 pasal 48, yang menyatakan bahwa: pemusnahan media pembawa yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari suatu area ke area lain dilakukan apabila setelah media pembawa tersebut : 1. Diturunkan dari alat angkut dan dilakukan pemeriksaan ternyata busuk atau rusak; 2. Dilakukan pengamatan dalam pengasingan ternyata tertular HPHK yang ditetapkan pemerintah.

Baca juga: Karantina Pertanian Lampung gagalkan penyeludupan 2.438 ekor satwa

Baca juga: Karantina Pertanian Surabaya sita 259 burung asal Balikpapan
Pewarta : Indra Setiawan
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021