BPPT: Pemanfaatan EBT belum optimal

BPPT: Pemanfaatan EBT belum optimal

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza dalam acara Bakti Inovasi BPPT dalam Upaya Penanganan COVID-19 di Jakarta, Jumat (23/07/2021). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) belum optimal dan menghadapi sejumlah tantangan termasuk biaya investasi mahal.

"Potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia cukup tinggi namun belum dimanfaatkan secara optimal sehingga belum dapat mencapai target bauran energi seperti diamanatkan dalam kebijakan energi nasional," kata Hammam dalam Pekan Inovasi Energi Baru dan Terbarukan Indonesia di Jakarta, Selasa.

Hammam menuturkan kapasitas pembangkit listrik nasional tahun 2018 mencapai 64 Gigawatt (GW), dengan pangsa terbesar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara yang mencapai 45 persen, sedangkan pangsa pembangkit EBT sekitar 15 persen. Kapasitas pembangkit EBT diperkirakan akan terus meningkat hingga pangsanya menjadi sekitar 24 persen pada tahun 2050.

Hammam mengatakan dalam bauran energi nasional, EBT mengalami pertumbuhan pasokan yang paling cepat sebesar 6,5 persen per tahun. Peningkatan peranan EBT tersebut mensubstitusi penurunan pangsa minyak dan gas bumi.

Hammam menuturkan pasokan EBT terus didorong seiring meningkatnya kekhawatiran akan kenaikan harga energi fosil serta dampak lingkungan dari penggunaan energi fosil.

Baca juga: Pemprov Aceh-BPPT sinergi kembangkan energi baru terbarukan

Baca juga: BPPT kerja sama litbang energi baru terbarukan dengan CEA Prancis


Penyediaan EBT itu didominasi oleh bahan bakar nabati (BBN), biomassa, hidro, dan panas bumi. Sementara itu, EBT lainnya seperti surya, angin, sampah dan biogas memiliki pangsa yang sangat kecil.

Hammam menuturkan pemanfaatan EBT masih banyak menghadapi kendala diantaranya adalah kesenjangan geografis antara lokasi sumber energi dengan lokasi kebutuhan energi serta biaya investasi teknologi energi berbasis EBT yang masih mahal.

"Saat ini pemanfaatan EBT di sektor ketenagalistrikan masih didominasi oleh penggunaan tenaga air, kemudian diikuti oleh pemanfaatan panas bumi, biomassa, biodiesel, dan tenaga surya, " katanya.

Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) masih terkendala dengan biaya investasi yang mahal terutama untuk komponen penyimpan energi dalam bentuk baterai maupun masalah pembebasan lahan.

Pemanfaatan energi angin dalam bentuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) masih memiliki beberapa tantangan yang dihadapi mengingat Indonesia adalah wilayah khatulistiwa yang memiliki potensi angin yang tidak stabil dan juga masalah harga jual listrik yang masih murah.

Baca juga: Energi baru terbarukan limbah sawit bagi mitigasi perubahan iklim

Baca juga: BPPT dorong inovasi pengembangan energi alternatif

 
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021