Kemenkes: Pandemi COVID-19 jadi tantangan penanggulangan "wasting"

Kemenkes: Pandemi COVID-19 jadi tantangan penanggulangan

Tangkapan layar - Plt Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Kartini Rustandi dalam forum pertemuan tingkat tinggi rencana aksi global wasting pada anak di Indonesia yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (30/11/2021). ANTARA/Zubi Mahrofi.

Jakarta (ANTARA) -
Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 menjadi tantangan dalam penanggulangan masalah wasting di di dalam negeri.
 
"Kejadian pandemi COVID-19 tentu menjadi tantangan dalam penanggulangan masalah kesehatan dan gizi pada anak, khususnya penurunan wasting di berbagai tatanan," ujar Plt Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Kartini Rustandi dalam forum pertemuan tingkat tinggi rencana aksi global wasting pada anak di Indonesia yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.
 
Ia menyampaikan, kecukupan asupan gizi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan akses serta pemanfaatan pangan, dimulai di masyarakat hingga level keluarga bahkan individu.
 
Ia menambahkan, intervensi gizi spesifik dalam kegiatan percepatan penurunan stunting perlu dilakukan secara komprehensif termasuk di dalamnya upaya penurunan wasting.
 
"Beberapa kegiatan antara lain penguatan, pemantauan tumbuh dan kembang balita, promosi, dan konseling serta pemberian makanan bayi dan anak, suplementasi zat gizi mikro, pemberian makanan tambahan bagi balita gizi kurang, serta bagaimana perbaikan tatalaksana gizi buruk pada balita yang menjadi bagian dari transformasi kesehatan," tuturnya.
 
Menurutnya, perlu optimalisasi seluruh kegiatan gizi spesifik yang didukung oleh gizi sensitif oleh seluruh sektor yang terkait dalam penurunan wasting.

Baca juga: Wapres: Investasi di bidang gizi adalah "smart investment"

Baca juga: Bappenas: Pemerintah terus berkomitmen atasi wasting dan stunting
 
Kartini mengemukakan, berdasarkan data survei status gizi balita di Indonesia pada tahun 2019, jumlah wasting tercatat sebesar 7,4 persen dan 1,7 persen di antaranya adalah gizi buruk.
 
"Jika dibandingkan tahun 2013, prevalensi wasting mengalami penurunan 10,2 persen," paparnya.
 
Dalam kesempatan itu, Kartini juga menyampaikan, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes memberikan apresiasi atas tersusunnya peta jalan operasional Global Action Plan (GAP) Wasting di Indonesia.
 
Peta jalan itu, lanjut dia, akan menjadi acuan kebijakan dalam pelaksanaan kegiatan yang terintegrasi antara pemerintah, pihak swasta, akademisi, organisasi profesi, mitra pembangunan, dan seluruh pemangku kepentingan, baik di pusat maupun daerah.
 
"Kami mengucapkan terima kasih juga kepada lima badan PBB yaitu FAO, WFP, WHO, UNHCR, dan UNICEF yang telah memberikan masukan dan dukungan terhadap pemerintah Indonesia, khususnya di bidang kesehatan untuk perbaikan gizi masyarakat dalam upaya penurunan wasting sehingga dapat dilakukan secara cepat tepat dan terintegrasi," tuturnya.

Baca juga: BKKBN sebut dua juta balita miliki bakat stunting selama pandemi

Baca juga: Pakar: Dua juta anak Indonesia alami berat badan rendah

 
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021