Direktur Utama Bursa Kripto CFX Subani menyampaikan bahwa pihaknya berinisiatif untuk mengurangi biaya transaksi bursa yang berlaku secara bertahap sebagai upaya membuat pasar Indonesia lebih kompetitif.
Saat ini, biaya transaksi bursa adalah 0,04 persen per transaksi. Subani mengatakan biaya tersebut akan turun menjadi 0,02 persen pada 1 Maret 2026, lalu berlanjut menjadi 0,01 persen pada 1 Oktober 2026.
"Bursa mendengar apa yang menjadi perhatian bagi konsumen dan PAKD (Pedagang Aset Keuangan Digital). Dengan biaya transaksi yang lebih kompetitif, kita sedang membangun pangsa pasar yang lebih besar,” katanya pada agenda CFX Cryptalk dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Apabila biaya transaksi di PAKD lokal semakin kompetitif, pihaknya optimistis dapat menarik kembali konsumen yang bertransaksi di platform offshore tak berizin, sehingga dapat memberikan dampak ke perekonomian nasional melalui penambahan pendapatan negara, termasuk pajak.
Subani menekankan perlunya dukungan untuk memperkuat posisi Indonesia di persaingan industri aset kripto global. Dukungan ini menjadi krusial untuk meningkatkan jumlah konsumen yang pada gilirannya akan berdampak ke perekonomian nasional.
Dia mengungkapkan bahwa struktur biaya transaksi yang kurang kompetitif saat ini memicu kekhawatiran, mengingat konsumen Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga cenderung beralih ke platform offshore tidak berizin demi biaya lebih rendah.
Berdasarkan studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), volume perdagangan konsumen Indonesia yang dilakukan melalui platform offshore tak berizin mencapai 2,6 kali lipat lebih besar dibandingkan platform berizin di Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang perlu dioptimalkan agar industri aset kripto nasional memiliki daya saing,” ujar dia.
Dalam kesempatan itu, Subani menyebutkan tingginya biaya transaksi antara platform pedagang yang berizin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dibandingkan dengan platform offshore tak berizin telah memicu capital outflow signifikan. Untuk menarik pasar ini, Indonesia dinilai memerlukan insentif lebih kompetitif.
“Saat ini, masih ada ketimpangan biaya transaksi yang cukup terasa antara platform dalam negeri dan global. Inilah yang sering kali membuat pengguna kita menoleh ke luar. Kunci untuk menarik kembali minat konsumen lokal adalah dengan menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif,” ungkap Dirut Bursa Kripto CFX.
Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) Robby turut menegaskan pentingnya strategi untuk menahan minat konsumen agar tak beralih ke platform asing.
Robby menganggap pedagang membutuhkan biaya transaksi yang lebih kompetitif untuk meningkatkan volume transaksi. Penurunan biaya menjadi insentif bagi para konsumen di Indonesia, sehingga mereka lebih aktif bertransaksi di PAKD dan tak lagi bertransaksi di luar negeri.
Menanggapi penurunan biaya transaksi bursa, Ketua ABI menyebutkan penurunan ini akan memiliki efek positif untuk konsumen di Indonesia.
“Biaya yang lebih kompetitif membuat konsumen lebih aktif bertransaksi, sehingga mereka tidak lagi menggunakan platform offshore tidak berizin. Saya mewakili asosiasi berterima kasih kepada Bursa Kripto CFX, karena dengan hadirnya biaya bursa yang lebih kompetitif bisa memberikan kenyamanan bagi pengguna untuk bertransaksi,” ucap Robby.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bursa Kripto CFX inisiasi kurangi biaya transaksi secara bertahap
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2026