Pemerintah menyiapkan tahap awal pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 17 gigawatt (GW) sebagai bagian dari proyek besar PLTS 100 GW yang tengah didorong dalam mendukung transisi energi nasional.

Dalam "Hipmi Power Development Forum 2026" di Jakarta, Rabu, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P Hutajulu mengatakan tahap awal itu dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha nasional, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), terlibat dalam proyek energi bersih skala besar.

Menurut Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pengembangan PLTS dalam skala besar tersebut tidak hanya berkontribusi pada bauran energi, tetapi juga membuka peluang investasi dan penciptaan lapangan kerja.

“Untuk tahap pertama sudah disampaikan 17 GW dulu ya. Kalau (peluang) ini tidak ditangkap, sayang sekali,” ujar Jisman.

 

Menurut dia, PLTS relatif lebih sederhana dibandingkan jenis pembangkit lain karena tidak memerlukan teknologi yang terlalu kompleks, sehingga target pembangunan tahap awal sebesar 17 GW dinilai lebih realistis untuk dikejar.

Dalam paparannya, Jisman menyampaikan pemerintah menargetkan total pengembangan PLTS mencapai sekitar 100,7 gigawatt peak (GWp) yang dikombinasikan dengan sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system (BESS) sebesar 145,8 gigawatt hour (GWh).

Program tersebut terbagi dalam dua skema utama, yakni PLTS skala besar yang terhubung jaringan listrik nasional, serta PLTS skala kecil terdistribusi untuk menjangkau wilayah terpencil dan desa.

Untuk PLTS skala besar, kapasitas yang disiapkan mencapai sekitar 87,5 GWp dengan dukungan BESS sebesar 111 GWh. Sementara itu, PLTS terdistribusi ditargetkan mencapai 13,2 GWp dengan BESS sekitar 34,8 GWh.

 

Dari sisi keekonomian, pemerintah memperkirakan tarif listrik dari PLTS skala besar berada di kisaran 5,5 hingga 25 sen dolar AS per kWh, sedangkan PLTS skala kecil berkisar 9 hingga 40 sen dolar AS per kWh, tergantung pada kapasitas penyimpanan energi yang digunakan.

Selain itu, proyek PLTS 100 GW diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 71,3 miliar dolar AS atau setara Rp1.140 triliun.

Presiden Prabowo Subianto sendiri menargetkan pengembangan PLTS mencapai 100 GW dalam kurun 2026–2028. Target tersebut tergolong sangat ambisius, mengingat kapasitas terpasang PLTS saat ini baru sekitar 1,5 GW.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemerintah siapkan tahap awal PLTS 100 GW sebesar 17 GW

Pewarta: Shofi Ayudiana

Editor : Debby H. Mano


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2026