Jakarta (ANTARA GORONTALO) -- Ransomware, salah satu bentuk peretasan dalam
bentuk pengenkripsian data, menjadi ancaman internet terbesar di dunia,
mengusai 42 persen dari total infeksi serangan cyber, yang diikuti oleh
exploits (40 persen) dan generic malware (10 persen).
Hal ini diungkapkan oleh managing director Sophos untuk Asean dan Korea Sumit Bansal saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/10).
"Hal
ini karena para peretas dapat memperoleh uang yang jauh lebih besar
bila dibandingkan bentuk-bentuk cyber crime lainnya," ujar Sumit.
Ransomware
adalah bentuk peretasan dalam bentuk penguncian (enkripsi) data
sehingga pengguna tidak dapat mengakses data tersebut, untuk kemudian
peretas akan meminta tebusan (ransom) dalam bentuk uang agar data
tersebut dapat dibuka lagi.
"Namun ironisnya,
terdapat satu kasus yakni sebuah data center yang telah membayar tebusan
sebesar jutaan dolar tapi sang peretas tetap tidak memberikan kode
untuk membuka data para konsumenya," lanjut Sumit.
Sophos,
salah satu pengembang piranti lunak keamanan cyber, memperkenalkan
solusi endpoint enterprise yang komprehensif untuk melawan ransomware
melalui Sophos Center.
Solusi ini memberikan
proteksi internet komprehensif yang menjangkau firewall, wireless,
email, endpoint, mobile, server, dan enkripsi serta dapat diakses
melalui cloud computing kapanpun dan dimanapun.
"Jika
sebuah komputer terinfeksi ransomware butuh setidaknya delapan jam
untuk membersihkannya. Dengan Sophos Center, hanya butuh waktu 30
detik," tambah Sumit.
Perlindungan end-to-end
Sophos juga dapat dimanfaatkan oleh pengguna akhir rumahan (home user)
melalui Sophos Home, antivirus handal yang dapat diunduh gratis di situs
resmi Sophos.
Editor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2017