Menurut dia, NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 106,90 untuk tanaman pangan, 114,70 untuk hortikultura, 98,54 untuk tanaman perkebunan rakyat, 103,80 untuk peternakan, dan 102,24 untuk perikanan.
"Dari 10 provinsi di Kawasan Timur Indonesia, delapan di antaranya memiliki NTP berada di atas angka 100," katanya di Gorontalo, Kamis.
NTP tertinggi dicapai oleh Provinsi Sulawesi Barat dengan nilai 107,14 yang diikuti Gorontalo 105,32, Sulawesi Selatan 104,60, Maluku Utara 103,34, dan Maluku sebesar 104,14.
Sementara itu, NTP Sulawesi Tenggara sebesar 100,64, Papua 100,59, dan Sulawesi Tengah 100,59.
Ia mengatakan bahwa NTP terendah terjadi di Papua sebesar 96,77 dan Sulawesi Utara sebesar 96,93.
"NTP nasional sebesar 101,39 mengalami penurunan sebesar 0,08 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 101,47," imbuhnya.
Pada bulan Juli 2016, terjadi inflasi di perdesaan di Provinsi Gorontalo sebesar 0,16 persen.
Ia menjelaskan bahwa inflasi terjadi karena adanya penaikan indeks harga pada kelompok konsumsi rumah tangga, yaitu makanan jadi 0,55 persen; perumahan 0,26 persen; sandang 0,49 persen; kesehatan 0,09 persen; pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,31 persen.
Kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar -0,01 persen serta transportasi dan komunikasi sebesar -0,04 persen.
Di sisi lain, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) Provinsi Gorontalo pada bulan Juli 2016 sebesar 118,03 atau turun sebesar 0,19 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Pewarta: Debby Hariyanti ManoEditor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026