Korban meninggal dunia akibat COVID-19 di India melampaui 400.000 jiwa, berdasarkan data resmi hingga Jumat, meskipun para ahli mengatakan angka kematian sebenarnya bisa mencapai satu juta jiwa atau lebih.

Semalam, negara itu mencatat 853 kematian hingga menjadikan jumlah korban melewati angka 400.000, menurut data dari Kementerian Kesehatan India. Korban jiwa di India adalah yang tertinggi ketiga secara global.

"Penghitungan kematian yang rendah adalah sesuatu yang telah terjadi di seluruh negara bagian, sebagian besar karena kelambatan dalam sistem, jadi itu berarti kita tidak akan pernah tahu berapa banyak orang yang kehilangan nyawa dalam gelombang kedua ini," kata Rijo M John, seorang profesor di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Rajagiri di kota selatan, Kochi.

Meskipun masih meningkat, jumlah infeksi baru telah mereda ke posisi terendah dua bulan sejak mencapai puncaknya --yaitu 400.000 kasus per hari pada Mei.

Pemerintah telah mengalihkan fokusnya ke imunisasi massal di tengah peringatan dari para ahli penyakit tentang ancaman gelombang ketiga ketika India perlahan-lahan dibuka kembali dan varian baru, yang secara lokal disebut Delta Plus, muncul.

Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi memulai kampanye nasional minggu lalu untuk memvaksin semua orang dewasa di negara itu secara gratis, dan bertekad untuk menjangkau 950 juta penduduk pada akhir tahun.

Namun, kecepatan vaksinasi juga diragukan. Data resmi pemerintah menunjukkan India memberikan rata-rata 3,5 juta dosis vaksin per hari minggu ini, lebih sedikit dibandingkan dengan 6,6 juta dosis minggu lalu.

Hanya enam persen dari semua orang dewasa yang memenuhi syarat di negara itu telah diinokulasi dengan dua dosis wajib, berdasarkan data resmi dari portal Co-Win milik pemerintah.

India telah menggunakan vaksin AstraZeneca, yang dibuat secara lokal oleh mitra Serum Institute of India, dan vaksin buatan sendiri bernama Covaxin dari Bharat Biotech.

Pada Juni, Serum Institute mengatakan pihaknya berencana untuk meningkatkan produksi bulanan menjadi hampir 100 juta dosis mulai Juli. Sementara, Bharat Biotech sekarang memperkirakan akan menghasilkan 23 juta dosis per bulan.


Sumber: Reuters

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani

Editor : Hence Paat


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2021