Kondisi saluran air di jembatan talumolo kota Gorontalo yang mengalami sendimentasi, Selasa (26/5/2026) (Faradila Alim)

Warga Kelurahan Talumolo, Kota Gorontalo, mengeluhkan sedimentasi yang menutupi saluran air di kawasan jembatan Talumolo sehingga memicu banjir saat intensitas hujan meningkat.

Salah seorang warga Talumolo, Ibu Cica (40), di Gorontalo, Selasa, mengatakan banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut disebabkan luapan air dari saluran yang dipenuhi sedimentasi.

Ia menjelaskan sedimentasi berasal dari kawasan Gunung Dumbo yang mengalami erosi sehingga saat hujan deras, aliran air membawa material tanah, kayu hingga bebatuan ke saluran air di sekitar permukiman warga.

“Kalau hujan deras air meluap bersamaan dengan tanah, kayu dan batu dari atas. Saluran air jadi tertutup sedimentasi,” ujar dia.

Menurutnya, warga sempat berharap banjir tidak lagi terjadi setelah jembatan di kawasan tersebut diperbaiki dan ditinggikan pemerintah. Namun kondisi itu belum mampu mengatasi luapan air karena saluran masih tersumbat endapan tanah dan material lainnya.

“Awalnya kami pikir setelah jembatan diperbaiki banjir tidak akan terjadi lagi, ternyata air tetap meluap karena saluran dipenuhi tanah,” kata dia.

Ia menambahkan warga masih menyimpan trauma banjir bandang yang pernah terjadi sebelumnya, terlebih kini Kota Gorontalo memasuki musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi hampir setiap hari.

Sementara itu, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Gorontalo Mohammad Iqbal Hasan mengatakan pembangunan jembatan di Gorontalo menjadi prioritas karena sebagian besar wilayah memiliki aliran sungai dan kontur yang rawan terdampak banjir.

Ia menjelaskan jembatan di Kelurahan Talumolo sebelumnya memiliki elevasi lebih rendah, namun telah ditinggikan menyesuaikan kenaikan muka air saat banjir.

“Dulu jembatan itu tidak setinggi sekarang. Karena muka air banjir naik, jembatan dibuat lebih tinggi, tetapi sedimentasi nya juga ikut naik,” kata Iqbal.

Menurut dia, penyebab utama luapan air bukan pada konstruksi jembatan, melainkan sedimentasi dari kawasan Gunung Dumbo di bagian atas permukiman warga.

Ia menilai penanganan banjir tidak cukup hanya dengan meningkatkan konstruksi jembatan, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya pengendalian erosi di kawasan hutan agar sedimentasi dapat dikurangi.

“Kalau sedimentasi tidak ditangani, air tetap akan meluap. Jadi jembatan makin tinggi, air juga ikut naik karena sedimentasi bertambah,” ujar dia.

Iqbal menambahkan diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk membenahi kawasan hulu, sekaligus memperkuat infrastruktur jembatan agar risiko banjir di permukiman warga dapat ditekan saat musim penghujan.

Pewarta: Faradila Alim

Editor : Debby H. Mano


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2026