Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis rupiah semakin menguat mencermati nilai tukar yang diperdagangkan pada Jumat sore ini tumbuh di bawah Rp14.000 per dolar AS di tengah pandemi COVID-19.

“Alhamdulilah terus menunjukkan penguatan sejalan dengan pandangan kami bahwa nilai tukar, untuk hari ini pun masih undervalue sehingga ke depan masih berpotensi menguat,” katanya dalam keterangan pers daring di Jakarta, Jumat.

Adapun perkembangan nilai tukar rupiah yang diperdagangkan bid over hingga Jumat sore mencapai Rp13.855 per dolar AS dan over mencapai Rp13.960 per dolar AS.

Gubernur BI mengungkapkan beberapa faktor yang mendorong rupiah menguat di antaranya inflasi dan defisit transaksi berjalan yang rendah, kemudian perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri serta premi risiko yang menurun.

Perry menjelaskan tingkat inflasi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2020 merupakan inflasi yang rendah yakni mencapai 2,19 persen dibandingkan tahun lalu.

Sedangkan perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri untuk surat berharga negara (SBN) saat ini mencapai 7,06 persen untuk tenor 10 tahun.

Suku bunga SBN itu, kata dia, jika dibandingkan yang ditawarkan Amerika Serikat sebesar 0,8 persen sehingga bedanya signifikan yakni 6,2 persen.

“Imbal hasil investasi aset keuangan Indonesia khususnya SBN masih tinggi,” katanya.

Sementara itu, indikator lainnya juga mendukung penguatan nilai tukar rupiah yakni premi risiko yang menunjukkan tren penurunan.

Premi risiko atau credit default swap (CDS) untuk Indonesia, lanjut dia, saat ini mencapai poin 126, atau turun dibandingkan pada perdagangan sebelumnya mencapai 245.

Namun, premi risiko saat ini yang mencapai 126 masih lebih tinggi dibandingkan sebelum adanya pandemi COVID-19 yang menyentuh level 66-68.

“Dengan premi risiko lebih rendah itu akan mendukung nilai tukar yang menguat ke depan, potensi itu ada,” katanya.
 

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Editor : Hence Paat


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2020