Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Anggrek di Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), Provinsi Gorontalo akan menggunakan sampah ranting dan pohon produksi masyarakat untuk menunjang operasional mesin pembangkit berkekuatan 2x25 Mega Watt tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, Ilyas Lagarusu, di Gorontalo, Senin, telah menyambungkan maksud pihak PLN selaku pengelola PLTU Anggrek, dengan Bupati Indra Yasin selaku pemerintah daerah.

PLTU Anggrek akan memanfaatkan sampah ranting dan pohon, maupun sampah domestik untuk menunjang operasional melalui pemanfaatan energi baru terbarukan, dan pemberdayaan masyarakat.

"Kami sudah melaporkan kerja sama ini ke pak Bupati Indra Yasin, dalam pemanfaatan sampah ranting dan kayu, domestik, sampah organik dan non organik untuk kepentingan operasional PLTU Anggrek," katanya.

Produksi sampah di daerah ini tidak akan lagi dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tomilito, namun langsung dibawa ke PLTU Anggrek.

Untuk ranting dan kayu, akan dihargai per ton. Hanya saja kata Ilyas, pihak PLN belum menyebut nilainya.

Namun untuk sampah, pihak PLN berharap DLH dapat menggratiskannya. 

Kata dia, pemkab sangat diuntungkan dari segi operasional sebab tidak perlu mengangkut sampah ke TPA Tomilito yang memerlukan biaya operasional bahan bakar minyak (BBM) untuk jarak 23 kilo meter (km)

Sebab dari pusat pembuangan sampah di Molingkapoto Kecamatan Kwandang menuju PLTU Anggrek, hanya berjarak 14 km.

Artinya terjadi penghematan operasional. Masyarakat pun dapat mengangkut sendiri sampah ranting dan pohon ke lokasi PLTU Anggrek jika ingin menjualnya langsung.

Tantangan yang dihadapi, produksi sampah di daerah ini belum banyak. Maksimal dalam sehari hanya mengangkut 1 truk atau 1 kali pengangkutan ke TPA Tomilito.

Hal itu karena jangkauan pelayanan oleh DLH masih terbatas. "Namun kerja sama dengan PLN tersebut sangat disyukuri mengingat menguntungkan dalam pengelolaan sampah di daerah ini," tambahnya.

Manajer PLN UPDK Gorontalo, Gatot Pujo Pramono mengatakan, kerja sama pemanfaatan sampah domestik, organik dan anorganik untuk meningkatkan nilai kalori batu bara agar emisi yang dihasilkan PLTU dapat berkurang.

Pemanfaatan tersebut juga sebagai upaya menciptakan operasional PLTU yang ramah lingkungan, melalui program pemberdayaan masyarakat.

Sebab pemanfaatan sampah dan energi baru terbarukan seperti kayu lamtoro juga menyerap banyak tenaga kerja.

Dengan pemanfaatan sampah tersebut, pun akan lebih menambah jumlah tenaga kerja yang diperlukan.***

Pewarta: Susanti Sako

Editor : Hence Paat


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2021