Gorontalo, (Antara News) - Tradisi "Bacoho" atau keramas adalah salah satu tradisi warga Gorontalo menyambut bulan Ramadhan yang kini masih dilakukan sebagian masyarakat di daerah setempat.

Dalam tradisi Bacoho warga menggunakan berbagai daun wangi sebagai shampo alami untuk membersihkan dan membuat rambut wangi di awal Ramadhan, kata Samin Poiyo (57) warga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo yang masih melestarikan tradisi tersebut menerapkan pada cucu perempuannya.

"Bacoho umumnya dilakukan pada anak perempuan, tapi laki-laki juga tidak masalah. Kami biasanya melakukannya sehari sebelum ramadhan atau pada hari pertama setelah berpuasa," ujarnya di Gorontalo, Kamis.

Bahan yang digunakan dalam Bacoho adalah kelapa yang diparut, kemudian dicampurkan dengan daun jeruk, daun pandan, kulit jeruk, sereh, daun kunyit hingga nilam.

Daun-daun tersebut dicincang, lalu bersama kelapa dibakar di atas bara tempurung kelapa atau dengan cara menuangkan bara ke dalam campuran bahan tersebut.

"Campuran kelapa dan daun-daun ini sangat wangi juga banyak khasiatnya untuk rambut. Bisa menyuburkan dan menghitamkan rambut, terutama bagi anak-anak," jelasnya.

Bacoho dimaknai sebagai pembersihan raga dalam menyambut ramadhan, bulan yang suci dan penuh rahmat bagi umat Islam.

Selain Bacoho, Gorontalo juga memiliki tradisi mandi dengan wewangian alami dari daun-daun yang ada di sekitarnya.

"Untuk mandi, bahannya masih sama kecuali kelapa tidak perlu. Bahannya tidak dibakar, melainkan direbus. Setelah daun layu semua dan airnya hangat, baru dipakai untuk mandi," ungkap Samin.

Menurutnya, keramas dan mandi dengan bahan racikan tradisional membuat badan lebih segar dan wangi lebih lama.

"Bagi kami, wewangian seperti itu sangat khas ramadhan. Itu yang selalu kami rindukan," ucapnya.

Pewarta: Debby H. Mano

Editor : Hence Paat


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2018