Enam provinsi lainnya yakni Papua Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Banten.
Khusus di Provinsi Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo merupakan dua daerah yang peningkatan penyebaran DBD cukup tinggi.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mencatat jumlah kasus DBD hingga minggu ke tiga Januari 2016 mencapai 138 kasus dan enam di antaranya meninggal dunia.
Sedangkan pada awal Februari 2016, dua orang warga di Kota Gorontalo juga meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah daerah untuk "berperang" melawan penyebaran DBD, baik melakukan sosialisasi pencegahan melalui kebersihan lingkungan hingga upaya fogging atau pengasapan untuk membunuh nyamuk aedes aegypti.
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mengeluarkan beberapa rekomendasi tentang langkah-langkah pencegahan penyebaran DBD yang lagi marak di daerah itu, yang khusus dilakukan oleh tim pemantau kesehatan maupun warga setempat.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Arifasno Napu, mengatakan rekomendasi mengenai pencegahan DBD yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN) minimal seminggu sekali sepanjang masa.
Perlu mengaktifkan kembali pemantau-pemantau jentik nyamuk, itu bisa dilakukan dengan pembelajaran di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
"Kemudian juga bagaimana di tingkat Puskesmas dapat melakukan penyuluhan-penyuluhan di tempat umum maupun di kantor kelurahan, sekolah, rumah ibadah atau sarana lainnya oleh kader atau para petugas kesehatan," katanya,
Selain itu jika akan melakukan fogging (pengasapan) harus dipastikan apakah keputusan itu telah sesuai kriteria.
Jika terindikasi untuk di-"fogging" maka harus diawali dengan PSN untuk semua wilayah kasus dengan radius kurang lebih seratus meter.
"Dengan sangat hormat juga kami menginginkan ada keterlibatan dari sektor-sektor lain seperti sektor Pekerjaan Umum, sektor Lingkungan Hidup dan sebagainya," ujarnya.
Sektor-sektor lain itu tentunya bagaimana proses pembangunan gedung-gedung, selokan-selokan turut memperhatikan kondisi lingkungan, sehingga tidak menimbulkan genangan air dan tidak menjadi lokasi bertelurnya nyamuk.
"Tentunya ini perlu kerja sama yang terintegrasi antarsektor-sektor terkait," kata Arif.
Yang terakhir, Arif mengatakan, perlu memaksimalkan kembali kegiatan klinik sanitasi di tiap-tiap Puskesmas yang dapat bekerjasama secara terintegrasi dengan program, sektor dan profesi lainnya dalam rangka meningkatkan kualitas percepatan pembangunan sanitasi permukiman (PPSP).
Grebek Kampung
Wali Kota Gorontalo Marten Taha tidak mau kalah dengan upaya pemberantasan penyebaran DBD, dengan melakukan terobosan membersihkan lingkungan hingga ke lingkungan terkecil dengan nama "grebek kampung".
Wali kota itu menyebutnya program "Grebek Kampung" salah satunya bertujuan untuk mengantisipasi dan memberantas penyakit DBD agar tidak terus meluas di wilayah itu.
"Kami ingin mendorong kesadaran masyarakat menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan, yang dimulai dari aparat pemerintahan dulu," katanya.
Hingga saat ini di Kota Gorontalo terdapat 3 warga yang meninggal dunia akibat DBD, sehingga pemkot berupaya agar jumlah penderita tidak bertambah.
Grebek Kampung akan dilakukan secara bergilir di tiap kelurahan sebulan sekali, dengan melakukan kegiatan penanaman pohon, membersihkan selokan dan got, memperbaiki penataan lingkungan hingga membebaskan lokasi tersebut dari sampah.
Dalam beberapa kesempatan, Marten mengaku sering melaksanakan sosialisasi pencegahan DBD, mulai dari hal yang paling sederhana yaitu menyingkirkan semua yang dapat menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk.
Sebagai kota yang baru meraih penghargaan Adipura, ia menilai Kota Gorontalo wajib mempertahankan predikat tersebut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui lingkungan yang bersih.
Menurutnya Kota Hijau merupakan bagian dari "Smart City", slogan program yang diusung pemerintah kota selama ini.
"Smart City, Kota Hijau, grebek kampung semua saling berkaitan erat dalam menciptakan lingkungan sehat. Bagi saya Adipura bukan tujuan utama, tetapi kesadaran masyarakat," ungkapnya.
Jika di Kota Gorontalo dengan program grebek kampung, lain halnya di Ibukota Kabupaten Gorontalo, Limboto, sejumlah warga dengan melakukan "Gerakan Kambungu Beresi" (kampung bersih).
Salah seorang partisipan gerakan tersebut, Dahlan Usman mengatakan Kambungu Beresi merupakan inisiasi dari jamaah Masjid Baiturahman yang resah dengan status Provinsi Gorontalo sebagai KLB DBD.
"Kami ingin bersama-sama dengan warga Limboto memberantas sarang nyamuk dengan membersihkan lingkungan. Juga ada edukasi kepada warga tentang pencegahan penyakit," jelasnya.
Selain membersihkan lingkungan, warga juga akan mendapatkan pengarahan tentang DBD dari petugas yang ditunjuk, serta pembagian selebaran.
Gerakan ini juga akan mendorong warga untuk menanam beberapa tumbuhan yang dikenal sebagai "anti nyamuk" seperti lavender dan sereh.
Ternyata Gubernur Gorontalo Rusli Habibie tidak mau ketinggalan untuk memerangi penyebaran DBD, sehingga beliau turun langsung terlibat Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di permukiman warga.
Slogan "gebrak sarang nyamuk DBD", dengan melakukan PSN yang dipusatkan di Kelurahan Pulubala, Gubernur bersama Pemerintah Kota Gorontalo serta melibatkan unsur TNI dari Kodim 1304, Brigif 22 Otamanasa, Yonif 713 dan Kepolisian Daerah Gorontalo.
Gubernur Gorontalo bersama tim turut membersihkan selokan yang sudah tersumbat akibat pembuangan sampah sembarangan.
Pada kesempatan itu gubernur menyampaikan bahwa kegiatan PSN ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, namun kali ini dilakukan secara besar-besaran dengan melibatkan banyak pihak, karena mulai meningginya kasus DBD yang hampir terjadi di semua daerah.
Inti dari memerangi penyebaran DBD adalah, menjaga lingkungan rumah bersih serta giat membunuh jentik-jentik nyamuk yang tersebar di beberapa tempat.
Langkah paling mudah adalah menggunakan langkah 3M, yakni membersihkan tempat-tempat genangan air, menguras bak mandi dan wadah lainnya serta menguburkan benda-benda tidak terpakai yang berpotensi berkembangnya jentik-jentik nyamuk.
Editor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.