Gorontalo (ANTARA) - Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan muda dalam menghadapi situasi darurat melalui simulasi manajemen bencana, dengan melibatkan lintas sektor, mulai dari BPBD Provinsi Gorontalo, Basarnas hingga BMKG.
Simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga penanggulangan bencana, di tengah meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia yang tanggap terhadap bencana di Indonesia.
Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UNG Zuhriana K. Yusuf, mengatakan praktik lapangan itu merupakan implementasi Inter Professional Education (IPE), yang mendorong setiap program studi berkontribusi sesuai kompetensi profesi masing-masing dalam penanganan bencana.
“Simulasi ini menjadi bagian dari pembelajaran manajemen bencana agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktik dalam situasi kedaruratan,” kata Zuhriana.
Dalam simulasi tersebut, Fakultas Kedokteran UNG menyiapkan skenario penanganan korban bencana dari aspek kesehatan melalui pendirian rumah sakit lapangan, penentuan titik kumpul aman, hingga penerapan protokol layanan kesehatan darurat.
Sebanyak 64 mahasiswa diterjunkan langsung untuk mempraktikkan prosedur evakuasi, penyelamatan korban, pelayanan medis awal, serta koordinasi lintas sektor dalam kondisi darurat.
Menurut Zuhriana, penguatan kapasitas mahasiswa di bidang kedaruratan menjadi penting karena Indonesia merupakan negara rawan bencana, sehingga tenaga kesehatan dituntut memiliki kesiapan menghadapi situasi krisis kemanusiaan.
Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam simulasi lapangan juga menjadi langkah strategis untuk membangun budaya sadar bencana di lingkungan akademik, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mitigasi bencana nasional.
Pengelola Data BPBD Provinsi Gorontalo, Mohamad A. Nasaru mengatakan sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi diperlukan untuk memperluas edukasi kebencanaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami melakukan simulasi skenario evakuasi dan mengedukasi seluruh perangkat universitas, terutama mahasiswa, terkait tugas mereka dalam penanggulangan bencana. Keterlibatan kampus penting karena universitas juga memiliki peran dalam penanganan korban bencana,” katanya.
Kolaborasi tersebut dinilai sejalan dengan upaya penguatan sistem penanggulangan bencana berbasis komunitas, termasuk mendorong institusi pendidikan menjadi bagian dari jejaring kesiapsiagaan nasional.
Pewarta: Faradila AlimEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026