"Imbal hasil obligasi AS berimbas pada kenaikan dolar AS sehingga membuat mata uang di sejumlah negara berkembang cenderung melemah," kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada.
Reza menambahkan sentimen perdagangan Amerika Serikat juga masih menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gejolak mata uang dan ekonomi global. Ia berharap keputusan Bank Indonesia menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen dapat berimbas positif bagi nilai tukar rupiah.
Selain itu, target pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 5,4 persen sampai 5,8 persen dalam RAPBN 2019 diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah.
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.