Jumat, 23 Juni 2017

BNNK : Kafe Di Pesisir Rawan Peredaran Narkoba

id BNNK : Kafe Di Pesisir Rawan Peredaran Narkoba
Gorontalo, (ANTARA GORONTALO) - Kepala Seksi Pemberantasan BNNK Bone Bolango AKP Fredy Rubai di Gorontalo, Sabtu, mengatakan sejumlah kafe atau Tempat Hiburan Malam (THM) di pesisir Kabupaten Bone Bolango rawan sebagai tempat transaksi narkoba.

Hal tersebut berdasarkan pantauan BNNK dalam sejumlah razia yang digelar.

THM yang dimaksud berupa kafe dan tempat karaoke yang kebanyakan berdiri di sepanjang pesisir Selatan.

Fredy mengatakan rata-rata informasi awal dari berbagai kasus yang ditangani BNNK Bone Bolango berasal dari kafe-kafe sejenis.

Menurutnya, posisi kafe-kafe yang berada di pesisir memudahkan para pengedar untuk membawa narkoba dari luar daerah, baik melalui jalur Teluk Gorontalo yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, maupun lewat jalur Selatan Jalan Trans Sulawesi yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara.

"Mungkin Bone Bolango ini daerah terbanyak dengan kafe-kafe kecil di pesisir pantai. Kebanyakan kasus adalah orang dari luar daerah membawa barang (narkoba) untuk diperjualbelikan atau dipakai di sini (Bone Bolango)," ujarnya

Untuk itu Seksi Pemberantasan BNNK Bone Bolango terus berupaya melakukan pengawasan dan razia rutin di pesisir Bone Bolango.

Operasi dengan nama Bersih Narkoba (Bersinar) itu menyasar pelanggan, pekerja, dan pemilik THM.

Razia terakhir dilakukan minggu lalu dengan menggandeng Satuan Narkoba Polres Bone Bolango.

Sejak Januari 2017 BNNK Bone Bolango telah menangani dua kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

"Satu kasus sudah inkracht dan satu kasus lagi dalam tahap penyidikan," imbuhnya.

Ia menyatakan pihaknya tidak akan main-main dan pilih-pilih pasal dalam menjerat para pelaku.

Hukuman berat menanti terutama jika pelaku terindikasi menjual dan mendapatkan keuntungan dari peredaran gelap narkoba.

Kepala BNNK Bone Bolango Abdul Haris Pakaya mengatakan faktor ekonomi dan kurangnya informasi adalah penyebab utama maraknya peredaran gelap narkoba.

"Tukang-tukang bentor, misalnya paling rawan. Mereka mudah sekali tergiur dengan imbalan yang besar dan pekerjaan yang tidak seberapa berat. Cuma mengantar sudah untung banyak. Sementara sanksi hukumnya kurang diketahui. Padahal kurir dan bandar hukumannya sama-sama berat, maksimal bisa hukuman mati, karena bisa dianggap sebagai satu sindikat," tutur Haris.

Untuk menyebarkan informasi soal dampak hukum peredaran gelap narkoba pihaknya semakin menggencarkan sosialisasi dengan menggandeng instansi-intansi lintas sektor. Misalnya Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda dan Olahraga dan Dinas Kesehatan.


Editor: Hence Paat

COPYRIGHT © ANTARA 2017