Bupati Bone Bolango, Hamim Pou menyebut malam pasang lampu atau Tumbilotohe merupakan bagian dari tradisi yang telah berusia ratusan tahun di Gorontalo dan penuh akan makna.

"Salah satunya menyambut Lailatul Qadar, di mana pada malam ini masyarakat Gorontalo yang membayar zakat, jadi banyak warga Gorontalo pada malam 27 Ramadan itu membayar zakat fitrah," ucap Hamim Pou di Gorontalo, Selasa.

Ia menjelaskan, sejak ratusan tahun lalu, jika ingin pergi salat maka warga Gorontalo menyalahkan lampu minyak di halaman rumah di jalanan maupun di depan masjid sebagai penerangan.

"Kan dulu belum listrik, oleh karena itu orang jaman dahulu menyalakan lampu minyak untuk memandu umat muslim ke masjid dengan lampu-lampu yang ada di jalan," ujar dia.

Hamim berharap dan yakin tradisi tersebut tidak akan lekang oleh waktu, tidak akan mati walaupun harga minyak tanah saat ini sudah mahal yaitu Rp35.000 per liter.

Ia mengungkapkan, agar tradisi Tumbilotohe tetap dilakukan, warga Gorontalo beralih dengan menyalakan lampu-lampu listrik.

"Tapi apapun bentuknya bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang sangat mulia," kata dia.

Bupati kembali mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap membayar zakat fitrah sebelum khatib turun dari mimbar usai salat Id nanti.

"Saya berharap masyarakat dapat memanfaatkan Baznas Bone Bolango untuk membayar zakat," pungkas dia.
 
Sejumlah petugas adat mendampingi prosesi menyalakan lampu minyak pada tradisi Tumbilotohe atau malam pasang lampu di Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Selasa (18/4/2023). Tradisi Tumbilotohe dilakukan dengan menyalakan lampu minyak di halaman rumah, masjid dan lapangan sebagai penerangan untuk umat muslim pada tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri. ANTARA/Adiwinata Solihin

Pewarta: Adiwinata Solihin

Editor : Debby H. Mano


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2023