Bogor, (ANTARA GORONTALO) - Pelawak Eko Patrio yang juga Anggota Komisi X DPR RI merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Jojon, baginya pelawak senior tersebut merupakan sosok seorang guru egaliter.

"Pak Jojon bukan senior tetapi guru bagi saya dan bagi semua pelawak-pelawak dan komedian di tanah air," kata Eko saat ditemui usai pemakaman Jojon di TPU Blender, Kebon Pedes, Kota Bogor, Kamis.

Menurut Eko, Jojon adalah sosok yang egaliter tidak membedakan antara senior dan junior, sehingga tidak ada senioritas selama bekerja sama dengan pelawak legendaris tersebut.

"Sesuatu yang membanggakan, selain menjadi guru, Jojon pulalah yang menyemangati Patrio hingga sampai saat ini," ujar Eko.

Dimata Eko, sosok Jojon adalah pelawak yang serba bisa, inspiratif, jauh dari gosip dan sangat mempuni di dunia komedian.

"Beliau orang bisa menciptakan komedi yang variatif, tidak ada lagi tokoh yang membanggakan seperti Jojon. Meski usianya sudah 64 tahun tapi tetap semangat," ujarnya.

Eko mengaku mendapat kabar atas meninggalnya Jojon, mulai tadi malam (Rabu-red), ia dikabari oleh pihak keluarga yang mengabarkan Jojon masuk rumah sakit.

"Pagi tadi, pulang dari Teater Koma, habis Shalat Shubuh dikabarin Pak Haji (Jojon-red) meninggal dunia," ujar Eko.

Eko menyebutkan, dirinya dan seluruh komedian di Indonesia sangat kehilangan atas kepergian Jojon untuk selama-lamanya.

Menurut Eko, sebelum Jojon meninggal, ia telah menyiapkan banyak program-progam yang akan dibuat bersama dengan Jojon.

"Ada program yang mau dibuat diarahkan untuk Jojon, satu program yang menyatukan pelawak senior dan junior, serta stand up comedy," ujar Eko.

Eko menuturkan, dirinya mengenal Jojon sejak 25 tahun lalu. Kenangannya yang paling ingat, adalah sifat egaliter Jojon yang bersedia mendukung pelawak muda untuk sukses.

"Yang membanggakan darinya, tidak membedakan antara senior dan junior. Momen paling berharga 25 tahun lalu Jojon bersedia menjadi bintang tamu di acara Patrio yakni Ngelaba, rating dan shownya tinggi itu karena ada Jojon," ujarnya.

Hal lain yang diingat Eko adalah sikap perhatian Jojon yang selalu mengingatkan Eko untuk menjaga kesehatan dan memperhatikan keluarga. Terakhir bertemu dua bulan yang lalu, Eko menerima BBM dari Jojon yang mengingatkannya untuk tidak lupa makan siang.

"Ada kata Jojon yang saya ingat, Eko jaga kesehatan, keluarga jadikan nomor satu. Mau bagaimana pun jika keluarga tidak nomor satu tidak ada gunanya," ujar Eko menirukan pesan Jojon.

Sementara itu, sebagai anggota Komisi X DPR RI, Eko mengatakan, tengah mempersiapkan Undang-Undang Kebudayaan yang salah satu pointnya sebagai pelindung sumber daya kesenian terutama pelaku keseniaan.

"Harapan dengan Undang-Undang Kebudayaan ini, ada ansuransi bagi pelawak. Saya sangat terenyuh melihat situasi saat ini dimana insan seni belum dimaksimalkan dan dimanusiakan oleh pemerintah. Seperti Jojon, kita tahu sudah mengidap asma cukup lama, dengan adanya asuransi bagi pekerja seni ini dapat meringankan," ujarnya.

Pelawak Senior Djuhri Masdjan alias Jojon meninggal dunia pada usia 67 tahun di Rumah Sakit Ramsey Premier Jati Negara, Jakarta pada pukul 06.30 WIB, Kamis.

Pelawak yang sudah berkiprak tahun 1970-an, dikabarkan mengalami penyakit asma dan serangan jantung, dan sudah beberapa hari dirawat di rumah sakit tersebut.

Djuhri Masdjan alias Jojon lahir di Kerawang 5 Juni 1947, merupakan pelawak yang cukup dikenal dan hingga kini masih terus berkiprah di profesinya.

Pewarta:

Editor : Hence Paat


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2014