Jumlah korban tewas dalam serangan kelompok bersenjata pada Sabtu (23/3) ke desa suku penggembala di Mali Tengah mencapai 157 orang, kata seorang juru bicara pemerintah pada Selasa (26/3).

Jubir tersebut mengungkapkan bahwa pembantaian terburuk di negara itu, yang dilanda kekerasan antarsuku, memang benar terjadi.

Serangan terjadi pada saat tim pembawa misi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sedang melakukan kunjungan ke Mali, negara penghasil emas di Afrika Barat . Tim Dewan Keamanan itu menjalankan misi untuk mencari penyelesaian atas kekerasan yang telah menewaskan ratusan warga sipil tahun lalu, dan meluas ke daerah Sahel Afrika Barat.

Seorang pejabat di kota sekitarnya mengatakan pada Sabtu bahwa orang-orang bersenjata itu, yang mengenakan pakaian tradisional pemburu Donzo, menyerang desa-desa yang ditinggali para gembala Fulani, saingannya. Banyak penggembala Fulani dicurigai melindungi kalangan penganut paham garis keras. Tuduhan itu dibantah oleh para warga Fulani.

Serangan juga terjadi kurang dari satu pekan setelah serangan maut dilancarkan oleh sekelompok pegaris keras ke sebuah pos tentara di Mali Tengah hingga menewaskan 23 tentara. Sebuah kelompok jaringan Al Qaida menyatakan sebagai pelaku serangan tersebut.

"Data resminya adalah 157 (orang meninggal, red)," kata Juru Bicara Pemerintah Amadou Kotia. Para pejabat mengatakan pada Sabtu bahwa sekitar 134 orang terbunuh. Mereka juga memperkirakan bahwa jumlah itu akan meningkat.

Kelompok-kelompok garis keras yang berkaitan dengan Al Qaida dan ISIS telah memanfaatkan persaingan antarsuku, seperti antara Fulani dan Donzo, di Mali dan negara-negara tetangganya --Burkina Faso dan Niger-- dalam beberapa tahun belakangan untuk meningkatkan rekrutmen dan membuat banyak willayah tak dapat dikendalikan.

Pasukan Prancis masuk ke Mali, yang merupakan bekas jajahan Prancis, pada 2013 untuk mendorong gerakan garis keras keluar dari wilayah utara. Namun, para gerilyawan sejak itu telah menyatukan kembali kekuatan dan meluaskan keberadaan mereka ke Mali tengah dan negara-negara tetangga.

Sekitar 4.500 tentara Prancis masih ditempatkan di wilayah Sahel, sebagian besar di Mali. Amerika Serikat juga punya ratusan tentara yang disiagakan di kawasan itu.

Sumber: Reuters


 

Pewarta: Tia Mutiasari

Editor : Hence Paat


COPYRIGHT © ANTARA News Gorontalo 2019