Gorontalo, (ANTARA GORONTALO ) -  Indonesia patut khawatir bakal kehabisan potensi minyak bumi seperti yang diungkap Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memprediksi cadangan energi fosil hanya cukup untuk sepuluh tahun lagi sedang upaya menggali sumber energi terbarukan di Indonesia masih tersendat-sendat.

Dosen dan Peneliti Geothermal dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Raghel Yunginger mengungkapkan salah satu energi yang ketersediaanya melimpah di Indonesia, termasuk di Sulawesi adalah panas bumi atau geothermal.

Potensi panas bumi di Indonesia sekitar 40 persen atau merupakan yang terbesar di dunia. Sementara yang dimanfaatkan hanya sebesar 1,1189 Mega Watt electric, atau sebesar 4,2 persen saja.Data ini menunjukkan masih sangat banyak potensi energi geothermal yang belum dimanfaatkan bahkan belum ditemukan, termasuk di Pulau Sulawesi, katanya, Jumat.

Khusus untuk Sulawesi, potensi panas bumi diduga sekitar 992 MW, namun hanya sekitar 78 MW yang terbukti dan sekitar 60 MW yang terpakai. Provinsi Gorontalo sendiri baru mulai menyentuh geothermal dalam dua tahun terakhir, untuk mencari solusi krisis energi listrik..

Selain terbarukan, pemanfaatan energi panas bumi lebih ramah lingkungan karena mampu menekan emisi karbon. Kelebihan lain pembangkit listriknya tidak memakan tempat, memberikan tenaga beban dasar yang konstan, dapat mengkonversi bahan bakar, memberikan keuntungan ekonomi secara lokal, dapat dikontrol secara jarak jauh, serta mengurangi polusi dari bahan bakar fosil.



Potensi Di Enam Titik

Berdasarkan studi geothermal, Gorontalo memiliki titik-titik manifestasi panas bumi yaitu berupa air panas. Lokasi air panas ditemukan di Kabupaten Bone Bolango yakni di Lombongo, Libungo, Pangi, Hungayono. Tulabolo, yang diprediksi mampu menghasilkan listrik sebesar 110 MW. Titik lainnya berada di Kabupaten Gorontalo yakni Pentadio dan Paguyaman.

Kepala Dinas Kehutanan, Pertambangan dan Energi Provinsi Gorontalo Husen Hasni mengatakan pihaknya telah menentukan Lombongo dan Libungo sebagai sumber panas bumi yang akan dieksplorasi.

Badan Geologi dan sejumlah pihak terkait telah melakukan survey, hingga akhirnya memilih Lombongo dan Libungo sebagai sumber panas bumi yang tepat untuk pembangkit listrik, jelasnya. Kedua titik tersebut dipilih karena memiliki suhu paling panas yakni 188 derajat Celsius.

Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Gorontalo baru akan ditawarkan kepada investor, melalui proses lelang yang akan dilakukan pada Juni 2013. Sejumlah investor berasal dari Amerika Serikat dan Korea Selatan mengaku tertarik, untuk mengembangkan potensi panas bumi di daerah tersebut.

Meski demikian, Raghel meminta pemerintah daerah untuk melakukan pendalaman di berbagai aspek sebelum membangun pembangkit listrik geothermal tersebut.

Penentuan lokasi harus tepat, karena mempengaruhi jangka waktu eksploitasi dan biaya yang dikeluarkan investor. Jika ternyata di titik yang dipilih hanya bisa mengeksploitasi selama lima tahun, tentu saja investor akan rugi, jelasnya.




Hutan Harus Terlindungi

Raghel menjelaskan, sistem panas bumi yang ideal harus memenuhi beberapa syarat yakni memiliki sumber panas yang berasal dari adanya habluran batuan atau magma, air tanah, batuan induk, batuan "reservoir" dan batuan penutup..Jika salah satu syarat pada sistem ini tidak terpenuhi atau tidak ada, energi panas bumi tidak dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Menurutnya, salah satu sumber panas bumi yang stabil di Gorontalo terdapat Pentadio, yang kini baru sebatas dimanfaatkan sebagai obyek wisata.

Lokasi air panas di Gorontalo memang ditemukan di sejumlah lokasi, namun belum diketahui dimana titik utama sumber panas bumi yang mempengaruhi manifestasi di enam titik tersebut,  tambahnya.

Jika titik utama tersebut ditemukan, maka pemerintah bisa memanfaatkan panas bumi dalam skala besar seperti pembangkit listrik sekaligus untuk pertanian, perkebunan dan peternakan.

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa pengembangan geothermal juga membutuhkan ketersediaan air secara kontinyu, agar panas bumi tetap dihasilkan. Untuk menjaga kuantitas air dalam tanah, maka kondisi hutan di sekitarnya harus terjaga dengan baik.

Hutan berfungsi sebagai penyimpan air. Jadi mustahil bagi pemerintah bercita-cita untuk menggunakan panas bumi terus-menerus sebagai sumber energi, bila hutannya habis dibabat,  tukasnya.

Pewarta: Oleh Debby Hariyanti Mano
: Hence Paat

COPYRIGHT © ANTARA 2026