Pentas teater produksi ke-2 kelas akting jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Sastra Budaya (FSB) UNG tersebut, mengisahkan tragedi pertentangan antara takdir dan kehendak manusia berlatar belakang Yunani kuno.
Marahalim Siagian, salah seorang penonton mengatakan kisah Oidipus Sang Raja pertama kali dipentaskan pada tahun 428 SM.
"Mitologi Yunani Odipus Sang Raja ini dihadirkan oleh Ipong Niaga sebagai sutradara bersama teater Sendratasik Universitas Negeri Gorontalo kompak dengan iringan langsung Hulonthalo String Orchestra, jadilah tontonan yang luar biasa," ungkapnya.
Sementara itu, penonton lainnya, Daniel Raharjo mengatakan pementasan yang dibawakan oleh kelas akting Sendaratasik sangat istimewa walaupun dengan panggung, pencahayan dan properti yang terbatas.
"Hal yang saya tangkap dari pementasan ini adalah, dengarlah pendapat orang lain dan pertimbangkanlah dengan bijak, sehingga dapat menghasilkan keputusan yg baik dan yang terutama adalah doa," ucap Daniel.
Sinopsis singkat dari Oidipus Sang Raja adalah, pada awal kelahirannya, Oidipus diramalkan akan membunuh ayah kandungnya dan kemudian mengawini ibu kandungnya sendiri.
Sebuah ramalan yang sangat kejam bagi hidup seorang manusia. Orang tuanya, Raja Laius dan Ratu Jocasta memutuskan membuang Oidipus ke hutan di Bukit Corintha agar ramalan itu tidak menjadi nyata.
Namun, seorang penggembala dari Corintha menyelamatkannya. Perjalanan Oidipus melawan takdir pun dimulai dengan diwarnai keangkuhan dan penderitannya.
Salah satu kalimat yang dikatakan oleh Oidipus adalah "apa yang kuinginkan dari mereka? kebenaran Jocasta, kebenaran. Tahukah kau mengapa aku sampai ke Thebes ini? Aku pergi ke Apolo mengatakan aku menanggung beban kutukan berat, ditakdirkan membunuh ayahku, mengawini ibuku dan mempunyai anak yang tak akan ditengok orang".
Pewarta: Adiwinata SolihinEditor : Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2026