Gorontalo (ANTARA) - Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Rahmatan Idul berhasil mempresentasikan hasil riset dalam Forum Akademik Internasional di Republik Ceko.
Rektor UNG Profesor Eduart Wolok di Kota Gorontalo, Selasa mengaku bangga terhadap prestasi tersebut.
Rahmatan Idul saat ini tengah menempuh studi doktoral di Leiden University, Belanda.
Ia berkesempatan mempresentasikan hasil risetnya pada The 19th Annual Conference on Asian Studies di Palacký University Olomouc, Republik Ceko.
Dalam forum akademik bergengsi tersebut, Rahmatan mengangkat kajian tentang bahasa-bahasa daerah di Indonesia, khususnya bahasa yang dituturkan di wilayah Sulawesi.
Penelitiannya menyoroti tantangan keragaman bahasa tersebut, terhadap teori dan metode analisis metafora yang selama ini banyak dikembangkan berdasarkan bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Indo-Eropa.
Salah satu fokus utama kajiannya adalah bahasa Muna. Melalui bahasa tersebut, Rahmatan menunjukkan makna figuratif tidak semata-mata dibentuk melalui pilihan kata atau unsur leksikal.
Makna juga dapat lahir melalui struktur gramatikal, hubungan antara bentuk dan makna, konteks budaya, praktik sosial, tradisi lisan, sampai cara masyarakat memaknai pengalaman hidupnya.
Temuan tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan teori metafora yang telah mapan, tidak selalu dapat diterapkan secara langsung pada seluruh bahasa di dunia.
Menurut Rahmatan setiap bahasa memiliki struktur dan latar budaya yang khas.
Karena itu, teori maupun metode analisis metafora perlu terus diuji ketika diterapkan pada bahasa-bahasa dengan karakteristik yang berbeda dari bahasa yang selama ini menjadi dasar pengembangannya.
“Bahasa daerah memiliki struktur dan latar budaya yang khas. Karena itu, teori dan metode analisis metafora perlu diuji kembali ketika diterapkan pada bahasa-bahasa yang memiliki karakteristik berbeda,” katanya.
Riset Rahmatan membawa pesan penting bahwa bahasa-bahasa daerah di Indonesia memiliki kekayaan linguistik dan budaya yang dapat memberikan kontribusi lebih luas terhadap perkembangan ilmu bahasa.
Selama ini, bahasa daerah kerap ditempatkan terutama dalam konteks dokumentasi, pelestarian dan revitalisasi bahasa.
Melalui kajian tersebut, bahasa daerah ditampilkan dalam posisi yang lebih strategis, yakni sebagai sumber pengetahuan ilmiah yang dapat menguji sekaligus memperkaya teori-teori linguistik yang berkembang secara internasional.
Bahasa Muna, misalnya, memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun makna melalui perpaduan antara bahasa, budaya, pengalaman dan tradisi.
Ungkapan figuratif yang digunakan masyarakat tidak selalu dapat dipahami hanya dengan melihat bentuk bahasanya, tetapi memerlukan pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi.
Perspektif tersebut membuka ruang refleksi bagi para linguis bahwa konsep dan teori yang dianggap mapan perlu terus diuji melalui keragaman bahasa dunia.
Dengan demikian, bahasa daerah Indonesia tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga dapat menjadi “penguji” teori linguistik, sekaligus sumber inspirasi untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan baru dalam memahami bahasa dan makna.
Keikutsertaan Rahmatan dalam konferensi internasional di Republik Ceko sekaligus menjadi langkah penting dalam memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya Indonesia, khususnya dari kawasan tengah dan timur Indonesia, ke dalam percakapan akademik global.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa setiap bahasa menyimpan cara pandang masyarakat penuturnya dalam memahami dunia.
Di balik sebuah ungkapan figuratif, terdapat pengalaman, nilai, pengetahuan, tradisi, sampai cara masyarakat memandang kehidupan.
Karena itu, mempelajari bahasa daerah tidak hanya berarti mempelajari sistem bahasa, tetapi juga membuka jalan untuk memahami cara manusia berpikir, merasakan dan memaknai realitas melalui bahasa.
Menariknya, kiprah Rahmatan dalam konferensi tersebut tidak berhenti pada forum presentasi.
Ia juga mendapat undangan untuk mengembangkan gagasan menjadi salah satu bab dalam bunga rampai akademik bertema Truths, Tensions and Technologies in Asia yang akan diterbitkan oleh Palacký University Press.
Tulisan tersebut akan dikembangkan bersama dua supervisor doktoral nya di Leiden University, yakni Profesor Marian Klamer dan Dr Aletta Dorst.
Kesempatan ini menjadi ruang lebih luas bagi Rahmatan untuk memperdalam pembahasan mengenai bahasa-bahasa daerah Indonesia.
Termasuk tantangannya terhadap kajian metafora, sekaligus membawa isu tersebut kepada pembaca dan komunitas akademik internasional.
Pewarta: Susanti SakoEditor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.